Nicolas Maduro Siagakan Marinir dan Komando AL untuk Perang

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Nicolas Maduro menyampaikan pidato di hadapan para marinir dan komando angkatan laut Venezuela, Ahad, 3 Februari 2019.[teleSUR]

    Presiden Nicolas Maduro menyampaikan pidato di hadapan para marinir dan komando angkatan laut Venezuela, Ahad, 3 Februari 2019.[teleSUR]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Venezuela Nicolas Maduro memperingatkan tentaranya untuk siap berperang jika AS ikut campur militer dalam krisis politik di Venezuela.

    Pada Ahad, 3 Februari 2019, Nicolas Maduro menghadiri latihan militer komando angkatan laut Venezuela di pesisir Aragua.

    Baca: Jenderal dan Dubes Venezuela di Irak Dukung Juan Guaido

    Dikutip dari CBC Canada, kelompok yang terdiri dari ratusan tentara meneriakan slogan "Selalu setia! Jangan pernah jadi pengkhianat!".

    Salah satu komando angkatan laut menyematkan medali di dada Maduro sementara kedua pria itu meneriakkan slogan bersama.

    Setiap hari ‎militer Venezuela loyalis Maduro menampilkan siaga militer setelah Maduro menyampaikan retorika invasi oleh pasukan luar yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

    "Kita berada dalam masa pertahanan kemerdekaan kita. Menjadi atau tidak menjadi, kata Shakespeare yang agung, menjadi sebuah bangsa, atau menjadi sebuah koloni; menjadi bagian dari Venezuela, atau menjadi tidak ada apa-apa; menjadi rakyat yang bersatu dan angkatan bersenjata, atau menjadi disintegrasi; masa depan dan sekarang, atau menjadi lenyapnya mimpi ini yang berusia lebih dari 200 tahun: Venezuela," kata Maduro kepada marinir, mondar-mandir di depan mereka di pantai dengan mikrofon.

    Baca: Wikileaks: Pengakuan Trump Berpotensi Picu Perang Sipil Venezuela

    Dikutip dari Daily Mail, Presiden Nicolas Maduro telah memperingatkan kemungkinan timbulnya perang saudara di Venezuela kecuali jika negara-negara asing berhenti melakukan intervensi dalam urusan dalam negerinya.

    Dia mengatakan bahwa AS, serta negara-negara Barat lainnya, perlu menghentikan agresivitas mereka atau Presiden Donald Trump berisiko "menodai tangannya dengan darah".

    Ancaman Maduro datang ketika sejumlah negara Uni Eropa, termasuk Prancis, Inggris, dan Spanyol, mengumumkan bahwa mereka mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai presiden sementara, setelah Maduro tidak melakukan pemilihan dini sebelum batas waktu ultimatum yang jatuh tempo kemarin.

    Maduro mengatakan dalam sebuah wawancara yang disiarkan di saluran TV Spanyol Antena 3 pada Ahad mengatakan "Kami tidak menerima ultimatum dari siapa pun. Saya menolak untuk menyerukan pemilihan sekarang, (karena) akan ada pemilihan pada tahun 2024."

    Baca: Kudeta Venezuela, Maduro Perintahkan Militer Siap Hadapi Invasi

    Ketika ditanya apakah krisis saat ini dapat mengakibatkan perang saudara, dia berkata, "Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti" dan menambahkan bahwa ini tergantung pada "tingkat kegilaan dan agresivitas kekaisaran utara (AS) dan (Sekutu) Baratnya".

    Sementara itu Presiden Donald Trump mengatakan dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari yang sama bahwa intervensi militer di Venezuela untuk melengserkan Nicolas Maduro adalah "sebuah pilihan".


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.