Antisipasi Krisis Energi, Korea Utara Konversi Batu Bara ke Gas

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan berjalan di antara loader front-end yang digunakan untuk memindahkan batu bara yang diimpor dari Korea Utara di pelabuhan Dandong di kota perbatasan Cina Dandong, provinsi Liaoning, 7 Desember 2010.[REUTERS / Stringer]

    Seorang karyawan berjalan di antara loader front-end yang digunakan untuk memindahkan batu bara yang diimpor dari Korea Utara di pelabuhan Dandong di kota perbatasan Cina Dandong, provinsi Liaoning, 7 Desember 2010.[REUTERS / Stringer]

    TEMPO.CO, Jakarta - Korea Utara mulai mengubah batu bara menjadi gas sintetis untuk mengurangi ketergantungan negara pada minyak akibat sanksi dan menghindari krisis energi.

    Dilansir dari Mainichi.jp, 20 Desember 2018, Cina telah menyediakan teknologi dan ahli kepada Korea Utara untuk konversi batu bara ke gas.

    Baca: Berbagai Sanksi PBB untuk Korea Utara dalam 11 Tahun

    Korea Utara telah menggunakan teknologi secara masif dan digunakan pada pabrik baja, pupuk, hingga semen, yang sebelumnya menggunakan minyak yang diimpor untuk tenaga.

    prorgam konversi batu bara ke gas ini dimanfaatkan untuk mengalihkan minyak ke sektor militer dan lainnya. Dengan penyelundupan dan strategi lain, konversi gas meberikan waktu tambahan bagi Kim Jong Un sebelum menyerah pada sanksi.

    Baca: 3 Perusahaan Korea Selatan Selundupkan Batu Bara Korea Utara

    "Sanksi energi tidak mungkin mendorong Korea Utara untuk menyerahkan senjata nuklir," kata David Von Hippel, seorang ahli di sektor energi Korea Utara di Nautilus Institute pada November, dikutip dari Asia Times.

    Sebuah kapal kargo dimuat dengan batu bara selama upacara pembukaan dermaga baru di pelabuhan Rajin di Korea Utara pada 18 Juli 2014. [REUTERS / Yuri Maltsev]

    Pembangkit listrik Korea Utara menghadapi banyak masalah karena kurangnya suku cadang dan bahan bakar, banyak unit boiler di pembangkit listrik dilaporkan tidak beroperasi, kata Von Hippel.

    PLTA, sumber utama pembangkit listrik di negara pegunungan, bergantung pada musim dan outputnya naik dan turun dan kapasitas biasanya jauh kurang dari 50 persen. Sementara Korea Utara memiliki miliaran ton cadangan batu bara. Batu bara juga sulit untuk diangkut di jaringan transportasi nasional yang sudah usang.

    Baca: PBB: Ekspor Ilegal Korea Utara Capai Rp 3,5 Triliun dalam 6 Bulan

    Korea Utara tidak memiliki sumber minyak dalam negeri, membuatnya sepenuhnya bergantung pada impor. Cina, yang menyalurkan minyak mentah melalui Sungai Yalu, berhenti mengekspor minyaknya ke Korea Utara dalam data ekonomi resmi pada 2014, setelah sanksi minyak PBB pada 2017.

    Baca: Langgar Sanksi, Diam-diam Kim Jong Un Ekspor Batubara ke Rusia

    Karenanya Korea Utara mulai mencari cara lain untuk menghasilkan energi domestiknya. Dilaporkan salah satu perusahaan Cina memasok banyak alat konversi batu bara yang bisa mengubah 40 ribu meter kubik batu bara dalam waktu satu jam untuk satu kawasan industri di Pyongyang.

    Menurut para ahli, yang dikutip dari laporan Mainichi.jp, dari hasil konversi batu bara Korut ini bisa menghasilkan cukup bahan bakar gas sintetis yang setara dengan 10 persen impor minyak tahunan Korea Utara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.