Kasus Serangan Granat, Bangladesh Vonis Mati Dua Eks Menterinya

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa terlihat di dalam van penjara di luar pengadilan setelah vonis dalam kasus serangan granat 21 Agustus 2004 di Dhaka, Bangladesh, 10 Oktober 2018.[REUTERS / Mohammad Ponir Hossain]

    Terdakwa terlihat di dalam van penjara di luar pengadilan setelah vonis dalam kasus serangan granat 21 Agustus 2004 di Dhaka, Bangladesh, 10 Oktober 2018.[REUTERS / Mohammad Ponir Hossain]

    Para pemimpin senior BNP, termasuk mantan Menteri Negara Dalam Negeri, Lutfuzzaman Babar dan mantan Wakil Menteri Pendidikan, Abdus Salam Pintu, dijatuhkan hukuman mati karena dituduh mendalangi plot untuk membunuh Hasina.

    BNP mengatakan bahwa vonis bermotif politik dan partai tidak menerimanya.

    Mirza Fakhrul Islam Alamgir, sekretaris jenderal partai, mengatakan vonis terhadap para pemimpinnya adalah contoh lain menggunakan peradilan untuk balas dendam politik.

    Serangan granat 21 Agustus saat kampanye Liga Awami di ibukota pada 21 Agustus 2004.[banglamirrornews]

    Dilansir dari Dhaka Tribune, Pengadilan Dhaka mengizinkan semua yang dinyatakan bersalah pada Rabu 10 Oktober untuk mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi dalam 30 hari, tetapi mengatakan narapidana yang melarikan diri ke luar negeri dan disidang in absentia, harus menyerahkan diri terlebih dahulu.

    Baca: Kritik Protes, Bangladesh Desak Kedubes AS Tarik Pernyataan

    Kasus yang dikenal "Kasus serangan granat 21 Agustus" di Bangladesh, berkaitan dengan serangan mematikan terhadap unjuk rasa yang diselenggarakan oleh Hasina dari Liga Awami di Dhaka pada 2004 ketika dia menjadi pemimpin oposisi.

    Hasina selamat dari serangan itu setelah beberapa pemimpin partainya membentuk benteng manusia di sekelilingnya, tetapi menyebabkan 24 orang lain tewas, termasuk ketum Liga Awami, Ivy Rahman.

    Dokumen-dokumen kasus mengatakan serangan itu adalah "lot yang dirancang cermat untuk membunuh Hasina yang didalangi oleh BNP.

    Pemerintah koalisi BNP dan Jamaat-e-Islami, yang berkuasa pada saat serangan itu, dituduh mempercepat penyelidikan untuk melindungi dalangnya.

    Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina. ANTARA FOTO/AACC2015

    Setelah putusan pada Rabu 11 Oktober, Sayed Rezaur Rahman, salah satu jaksa utama, mengatakan, "Serangan granat dianggap sebagai salah satu kejahatan paling keji dalam sejarah negara ini. Ini bukan kasus bermotif politik, melainkan kasus kriminal."

    Menurut dokumen yang diajukan oleh jaksa, serangan itu dilakukan oleh kelompok bersenjata, Harkat-ul-Jihad (HuJI).

    Mengutip dugaan keterlibatan Mufti Abdul Hannan, jaksa penuntut juga menuduh tujuan serangan itu adalah untuk mendirikan "Islam fanatik" di negara Asia selatan.

    Baca: Polisi Bangladesh Didesak Bebaskan Fotografer Shahidul Alam

    Hannan, seorang pemimpin senior HuJI yang dituduh melakukan beberapa serangan di Bangladesh, dieksekusi tahun lalu.

    BNP menuduh bahwa Hasina menghancurkan perbedaan pendapat dan menempatkan saingannya di balik jeruji besi serta peradilan hukuman mati untuk memperkuat kembali posisinya jelang pemilu Bangladesh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.