Jatuh-Bangun Venezuela dari Krisis Ekonomi

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta besar Venezuela di Jakarta, Gladys F Urbaneja Duran. TEMPO/Suci

    Duta besar Venezuela di Jakarta, Gladys F Urbaneja Duran. TEMPO/Suci

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Venezuela untuk Indonesia, Gladys F Urbaneja, tak menampik musibah kelaparan yang tengah terjadi dinegaranya. Dia menyebut diantara pangkal perkara ini adalah karena oposisi menghancurkan sistem pengentasan kemiskinan yang telah dibangun sejak era mantan Presiden Hugo Chavez dengan cara menyelundupkan barang-barang ke pasar gelap Kolombia sehingga terjadi kekurangan pasokan barang di Venezuela.

    "Pasokan makanan tiba-tiba hilang sehingga inflasi melonjak. Harga bensin, dulu US$.0,01 dan sekarang menjadi US$.18," kata Urbaneja, Kamis, 17 Mei 2018 di Jakarta.

    Baca: Pemilu Venezuela 20 Mei, Presiden Maduro Maju Lagi

    Duta besar Venezuela di Jakarta, Gladys F Urbaneja Duran. TEMPO/Suci

    Baca: Krisis Venezuela, Uang Bolivar Jadi Bahan Baku Kerajinan Tangan

    Dia menceritakan, pada era mantan Presiden Chavez, Venezuela berhasil menurunkan angka kemiskinan hampir 60 persen. Angka kemiskinan ekstrim dari 21 persen turun sampai 4 persen. Tak pelak prestasi ini membuat Chavez disebutnya Urbaneja sebagai mantan presiden terbaik di Amerika Latin.

    Namun, saat ini sistem yang dibangun era Chavez ini masih terus diperbaiki oleh pemerintahan penerusnya, Presiden Nicolas Maduro, setelah Venezuela dihantam krisis ekonomi. Tantangan yang dihadapi Maduro sekarang ini disebut Urbaneja, lebih berat dibanding era Chavez karena salah satunya Maduro harus menciptakan kesinambungan ditengah gempuran sanksi dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa serta upayanya dalam menciptakan perubahan.

    Dengan terbitnya sanksi-sanksi ekonomi tersebut, maka dana pemerintah Venezuela di luar negeri sekitar US$.16 miliar, tidak bisa diambil.

    Pada 2016, kelompok rentan yang mendapat program bantuan dari pemerintah Venezuela sekitar 6 juta orang. Pada 2018, jumlah kelompok rentan yang dibantu naik menjadi 9 juta orang. Mereka yang masuk dalam kelompok rentan adalah manula, anak-anak dan ibu hamil. Venezuela memiliki populasi sekitar 31 juta jiwa.

    Urbaneja mengatakan saat ini Venezuela sedang giat-giatnya mengembangkan diversivikasi ekonomi agar tak terlalu bergantung pada minyak dan menarik investasi asing dengan menjalin hubungan baik dengan Turki, Cina, Rusia, Iran dan sekutu-sekutu Venezuela di Amerika Latin. Hubungan yang baik ini ditujukan agar antar negara saling membantu dan bisa sama-sama mendapatkan harga barang terbaik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perolehan Kursi DPR Pemilu 2019, Golkar dan Gerinda di Bawah PDIP

    Meski rekapitulasi perolehan suara Golkar di Pileg DPR 2019 di urutan ketiga setelah PDIP dan Gerindra, namun perolehan kursi Golkar di atas Gerindra.