Ditahan Myanmar, Jurnalis Reuters: Saya Percaya Demokrasi

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ke-10 pria Rohingya yang ditangkap sebelum dibantai warga Buddha dan tentara Myanmar di Inn Din, Rakhine, Myanmar, 2 September 2017. Di antara 10 pria Rohingya tersebut merupakan nelayan, penjaga toko, seorang guru agama Islam dan dua remaja pelajar sekolah menengah atas berusia belasan tahun. Laporan pembantaian ini ditulis oleh dua wartawan yang kini diadili pemerintah pimpinan Aung San Suu Kyi. REUTERS

    Ke-10 pria Rohingya yang ditangkap sebelum dibantai warga Buddha dan tentara Myanmar di Inn Din, Rakhine, Myanmar, 2 September 2017. Di antara 10 pria Rohingya tersebut merupakan nelayan, penjaga toko, seorang guru agama Islam dan dua remaja pelajar sekolah menengah atas berusia belasan tahun. Laporan pembantaian ini ditulis oleh dua wartawan yang kini diadili pemerintah pimpinan Aung San Suu Kyi. REUTERS

    TEMPO.CO, Yangon - Jurnalis Reuters, Wa Lone, menanggapi putusan hakim di pengadilan di ibu kota Yangon yang menolak membebaskan dia dan rekannya  Kyaw Soe Oo terkait kasus menyimpan dokumen rahasia pemerintah Myanmar.

    “Saya percaya pada demokrasi. Saya juga percaya suatu hari kami akan dibebaskan karena kebebasan berekspresi,” kata Wa Lone kepada media seusai putusan hakim Ye Lwin, seperti dilansir Reuters, 11 April 2018.

    Baca: Bunuh 10 Rohingya, Myanmar Hukum 7 Tentara 10 Tahun Penjara

    Wa Lone tepat berusia 32 tahun saat persidangan kemarin. Anggota keluarga dan rekan-rekannya menangis mendengar putusan hakim itu. Seusai sidang, mereka terlihat membawakan Wa Lone kue ulang tahun.

    Polisi Myanmar menahan dua jurnalis Reuters, Wa Lone, 32 tahun, (mengacungkan dua jempol) dan Kyaw Soe Oo, 28 tahun, karena meliput peristiwa pembantaian warga etnis Rohingya oleh militer Myanmar. Reuters

    Soal kasus ini, hakim Ye Lwin mengatakan,“Pengadilan memutuskan menolak proposal dari pengacara untuk membebaskan terdakwa sebelum semua saksi menjalani pemeriksaan silang.”

    Baca: PBB: Myanmar Belum Siap Terima Kembali Rohingya

    Kedua jurnalis ini sedang menginvestigasi pembunuhan massal 10 orang warga Rohingya pada 2 September 2017 di desa Inn Din, yang dilakukan pasukan militer Myanmar dan penduduk desa.

    Anehnya, kedua jurnalis ditangkap lalu belakangan militer mempublikasikan peristiwa pembantaian yang terjadi. 7 orang tentara Myanmar dijatuhi hukuman sepuluh tahun dengan tiga orang harus menjalani hukuman kerja paksa.

    “Kami merasa sangat kecewa dengan putusan pengadilan itu,” kata Stephen J. Adler, pemimpin redaksi Reuters, seperti dilansir Reuters, Rabu, 11 April 2018.

    Adler menambahkan,”Kami meyakini ada landasan yang kuat bagi pengadilan untuk menghentikan kasus ini dan melepaskan jurnalis kami. Wa Lone dan Kyaw Soe Oo sedang meliput isu di Myanmar dengan cara independen dan imparsial.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Avengers: EndGame dan Ribuan Jagoan yang Diciptakan oleh Marvel

    Komik marvel edisi perdana terjual 800 ribu kopi di AS. Sejak itu, Marvel membuat berbagai jagoan. Hingga Avengers: Endgame dirilis, ada 2.562 tokoh.