Presiden Afganistan Tawarkan Taliban Jadi Partai Politik

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sedikitnya 100 orang tewas dan ratusan orang terluka akibat ledakan bom milisi Taliban yang disimpan di dalam ambulans yang lewat di Kabul, Afganistan, 28 Januari 2018.[AL JAZEERA]

    Sedikitnya 100 orang tewas dan ratusan orang terluka akibat ledakan bom milisi Taliban yang disimpan di dalam ambulans yang lewat di Kabul, Afganistan, 28 Januari 2018.[AL JAZEERA]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Afganistan Ashraf Ghani membuat gebrakan dengan menawarkan milisi bersenjata Taliban membentuk partai politik. Ini sebagai bentuk pengakuan bahwa Taliban tidak akan lagi disebut sebagai pemberontak dan teroris. Presiden Ghani menegaskan tawaran damai ini tanpa memberikan syarat apa pun kepada Taliban.

    Baca: Kenapa Warga Afganistan Kini Bawa Catatan Diri Saat Bepergian?

    "Kami saat ini menawarkan tanpa persyaratan untuk mencapai kesepakatan damai," katanya dalam acara konferensi internasional, yang berfokus pada menghadirkan perdamaian di Afganistan, yang diselenggarakan di Kabul, Rabu, 28 Februari 2018, seperti dikutip dari Guardian.

    Ia memastikan secara resmi pemerintahannya dan konstitusi akan mengakuinya. Sebaliknya, Taliban juga harus mengakui pemerintah Afganistan dan menghormati hukum.

    Jalan Damai Afganistan dan Taliban Menipis

    Baca: Rusia Diduga Pasok Senjata ke Taliban di Afganistan, Ini Buktinya

    Presiden Ghani juga meminta gencatan senjata dilakukan setelah Taliban nanti menjadi partai politik dan mengikuti pemilu.

    "Gencatan senjata harus dilakukan. Taliban harus diakui sebagai partai politik dan proses membangun kepercayaan harus diinisiasi," ujarnya.

    Seperti dikutip dari Channel News Asia, Ghani juga menegaskan keputusan atas tawaran itu ada di tangan Taliban. "Sekarang putusan ada di tangan Anda, terima perdamaian dan mari mewujudkan stabilitas di negeri ini," ucapnya.

    Baca: Kronologi Teror Taliban Tewaskan 140 Prajurit Afganistan  

    Taliban belum memberikan respons atas tawaran Presiden Ghani. Namun beberapa hari lalu Taliban menyerukan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat untuk menemukan solusi damai setelah lebih dari 16 tahun hidup dalam peperangan.

    Sepanjang 2018, Taliban telah membuat serangan mengerikan, seperti ledakan bom di dalam ambulans di Kabul, ibu kota Afganistan, pada Februari lalu, yang menewaskan lebih dari 130 orang. Sebelumnya, Taliban menyerang Hotel Intercontinental, yang menewaskan 20 orang, saat terjadi penyergapan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.