Hun Sen Ancam Veto Keputusan KTT ASEAN--Australia, Alasannya?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. AP Photo

    Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. AP Photo

    TEMPO.CO, Phnom Penh -- Perdana Menteri, Samdech Techo Hun Sen, memperingatkan akan  memveto sebuah pernyataan bersama ASEAN-Australia yang akan datang jika mengkritik tindakan pemerintahannya  yang menekan kelompok oposisi di sana. Dia akan menganggap kritikan itu sebagai mengganggu urusan dalam negeri Kamboja.

    Seperti dilansir Xinhua pada 21 Februari 2018, Hun Sen, 65 tahun, dan para pemimpin ASEAN akan bertemu dengan Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, di Sydney pada bulan depan untuk menghadiri KTT khusus ASEAN-Australia. Berita ini juga dilansir Channel News Asia.

    Baca: Hun Sen Bersumpah Pertahankan Jabatannya Hingga 10 Tahun Lagi

     

    Perdana menteri Kamboja mengatakan karena ASEAN membutuhkan sebuah konsensus untuk semua keputusan yang dibuat, Kamboja dapat memblokir pernyataan bersama ASEAN-Australia. Dia mengatakan akan melakukan ini jika pemerintah Australia memberi tekanan pada pemerintah Kamboja terkait serangkaian tindakan hukum terhadap kelompok oposisi.

    Baca: Hun Sen Ancam Perang Saudara Jika Partainya Kalah Pemilu

    Keluarga Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, phnompenhpost.com

    "Pernyataan bersama antara ASEAN dan Australia tidak akan dikeluarkan jika ada perintah atau aktivitas yang melawan kemerdekaan dan kedaulatan Kamboja, dan mengganggu urusan dalam negeri negara," kata Hun Sen.

    Dalam pidato yang disampaikan kepada 10.000 pekerja garmen di bagian barat Phnom Penh itu, Hun Sen, yang telah berkuasa selama lebih dari 30 tahun, mengatakan dia mendapat informasi rahasia tentang rencana Australia dan negara-negara ASEAN lainnya untuk melakukan protes diplomatik ke Kamboja.

    Hun Sen juga memperingatkan kelompok oposisi Kamboja di Australia untuk tidak meyulut gangguan saat mereka melakukan demonstrasi menentang kunjungannya ke Australia bulan depan.

    Dia juga mengatakan akan membiarkan adanya protes terhadapnya namun mengingatkan untuk tidak membakar patung kecil dirinya.

    "Proteslah dan teriaklah, tapi saya ingatkan jangan membakar potret saya. Jika melakukannya, saya akan mengejar hingga ke rumah dan menghancurkanmu, "katanya. "Saya bersungguh-sungguh."

    Demonstrasi telah direncanakan oleh diaspora Kamboja di Australia untuk memprotes berbagai tindakan keras pemerintah terhadap oposisi nasional, media independen dan organisasi non-pemerintah.

    Pernyataan perdana menteri ini muncul setelah kalangan oposisi mengklaim bahwa KTT itu akan memberikan tekanan pada pemerintah mengenai penangkapan pemimpin oposisi Kem Sokha dan pembubaran partai oposisi utama menjelang pemilihan umum pada 29 Juli 2018.

    Mahkamah Agung Kamboja memerintahkan pembubaran Partai Penyelamatan Nasional Kamboja pada November 2017 dan larangan terhadap 118 anggota seniornya dari aktifitas politik selama lima tahun. Ini dilakukan setelah pemimpinnya, Kem Sokha ditangkap pada  September dan didakwa melakukan "pengkhianatan".

    Kem Sokha, 64 tahun, dituduh merencanakan penggulingan pemerintah dengan dukungan kekuatan asing. Hun Sen mengatakan ingin berkuasa 10 tahun lagi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.