PM Ikut Presiden Lari ke Saudi, Yaman Jatuh ke Separatis-Houthi?

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak korban kelaparan akibat perang di Yaman. BBC.com

    Anak korban kelaparan akibat perang di Yaman. BBC.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Yaman Ahmed Obaid bin Dahr dan kabinetnya dikabarkan bersiap melarikan diri ke Arab Saudi setelah kelompok separatis selatan menguasai wilayah sekitar istana presiden Maashiq di Aden, kota kedua terbesar di Yaman kemarin malam.

    Presiden Yaman dukungan masyarakat internasional, Abed Rabbo Mansour Hadi telah lebih dulu memilih jadi eksil di Arab Saudi.

    Kelompok separatis yang menamakan diri Dewan Transisi Selatan bertempur dengan pasukan pemerintah sah didukung masyarakat internasional di dekat istana presiden di distrik Crater, Aden.

    Baca: Houthi Ambil Alih Ibukota Yaman Setelah Bunuh Eks Presiden

    Kelompok separatis ini bermaksud mendesak pasukan presiden Hadi untuk segera meninggalkan tempat mereka.

    Dahr sepertinya tidak kuat menghadapi tekanan, sehingga pejabat di pemerintahan Hadi mengungkapkan kepada TIME, Dahr dan sejumlah kabinetnya segera terbang ke Riyadh.

    Istana presiden Maashiq merupakan tempat berdirinya pemerintahan resmi Yaman yang diakui masyarakat internasional.

    Meski mendapat serangan, menurut TIME, pasukan separatis tidak masuk ke dalam istana. Pasukan Arab Saudi yang sudah berbulan-bulan menjaga istana berusaha menghentikan usaha kelompok separatis menguasai Maashiq.

    Seorang wanita Yaman bersama dengan anak-anaknya saat berada di tenda tempat tinggal mereka di kamp pengungsian di Sanaa, Yaman, 15 April 2017. AFP PHOTO / Mohammed HUWAIS

    Baca: Presiden Yaman, Hadi Perintahkan Pasukannya Serang Milisi Houthi

    Informasi berbeda dilaporkan The Associated Press bahwa Perdana Menteri Dahr dan beberapa menterinya tetap tinggal di Aden. Pasukan separatis tidak berusaha menguasai istana.

    Namun pejabat resmi Yaman menolak menjelaskan apakah Perdana Menteri Dahr sudah meninggalkan Aden.

    Sejak Minggu. 28 Januari 2018, pertempuran pecah di Aden pertama kali, bersamaan dengan berakhirnya tenggat waktu separatis terhadap pemerintah Yaman untuk mundur.

    Sedikitnya 36 orang tewas dan 185 orang terluka dalam pertemuan itu, menurut Palang Merah Internasional.

    Posisi Hadi terjepit, ia tak hanya berhadapan dengan separatis selatan, tapi juga dengan milisi Houthi di utara negara itu. Houthi yang sejak 2015 bertempur melawan pemerintah Yaman telah menguasai wilayah utara setelah menguasai Sanaa,ibukota Yaman.

    Baca: PBB Minta Dana Rp 15,9 Triliun agar Anak Yaman Tak Kelaparan  

    Milisi Houthi mengumumkan pengambilalihan Sanaa, ibukota Yaman beberapa jam setelah kematian eks presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Senin, 4 Desember 2017.

    Di satu sisi Arab Saudi yang mendukung pemerintahan Hadi, sementara di sisi lain sekutu United Arab Emirates telah melatih pasukan separatis dan memperkuat mereka dalam setahun terakhir untuk secara langsung melawan Hadi yang saat ini tinggal di Riyadh.

    Perang saudara di Yaman selama 3 tahun terakhir telah menewaskan 10 ribu warga sipil dan 2 juta orang meninggalkan rumah mereka .

    PBB melaporkan Yaman saat ini menghadapi krisis kmanusiaan terburuk di dunia. Presiden Hadi yang menjadi eksil di Arab Saudi menuding separatis melakukan aksi kudeta.  Apakah Yaman akan  dikuasai oleh separatis dan milisi Houthi setelah pemerintahan kosong? 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.