Arab Saudi, Unta Tertinggi di Dunia Dibanderol Rp 1 Miliar

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Unta tertinggi di dunia. [SPA]

    Unta tertinggi di dunia. [SPA]

    TEMPO.CO, Jakarta - Jika Anda sempat jalan-jalan ke Arab Saudi untuk menyaksikan sebuah festival di Sayaheed, kawasan gurun pasir sekitar Riyadh, Anda akan bertemu dengan unta tertinggi di dunia.

    Si Punuk yang ditakdirkan suka hidup di padang tandus itu, menurut laporan Arab News, Kamis, 25 Januari 2018, adalah unta paling tinggi sejagat.

    Baca: Otoritas Lomba Saudi Diskualifikasi 12 Unta karena Disuntik Botox

    Festival Unta Raja Abdulazis. [SPA]

    "Unta berusia enam tahun itu memiliki tinggi sekitar tiga meter. Jika diukur dari ujung kaki hingga punggung mencapai 2,4 meter," tulis Arab News dalam laporannya, Kamis.

    Pada festival tersebut, panitia pelaksana sengaja memajang unta dengan aneka keunikannya agar memiliki daya tarik pengunjung. "Di festival tersebut ada unta terpendek, unta dengan dua punuk, dan unta dwiwarna."

    Festival Unta Raja Abdul Azis ini digelar untuk tujuan menghadirkan unta sebagai warisan Kerajaan Arab Saudi, sekaligus untuk pendidikan bagi pengunjung karena di sana unta memiliki beragam nama dan aneka warna.

    Aksi seekor unta yang ditunggangi robot saat mengikuti balapan di Wadi Rum, Yordania, 2 November 2017. REUTERS / Muhammad Hamed

    Panitia berharap unta menjulang itu bisa masuk ke Guinness World Records. "Tinggi unta ini mengalahkan unta lainnya dengan ketinggian lebih dari 190 sentimeter," kata Fares al-Dalbji, panitia festival, seperti dikutip Khaleej Times.

    Baca: Jangan Selfie Dekat Unta, Mers-COV Mengintai, Apa Itu?

    Menurut dia, banyak warga Arab Saudi yang tertarik ingin membeli unta tersebut, yang dibanderol dengan harga SAR 300 ribu atau sekitar Rp 1 miliar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?