Selasa, 20 November 2018

Trump Bakal Cegat Kapal Menuju negara Kim Jong Un, Alasannya?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara Korea Selatan berjalan di Jembatan Unifikasi, yang mengarah ke zona demiliterisasi, dekat desa perbatasan Panmunjom di Paju, Korea Selatan, 4 Januari 2018. AP Photo

    Tentara Korea Selatan berjalan di Jembatan Unifikasi, yang mengarah ke zona demiliterisasi, dekat desa perbatasan Panmunjom di Paju, Korea Selatan, 4 Januari 2018. AP Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menggalang dukungan dari Kanada dan negara sekutu  lainnya untuk mendukung inspeksi atas kapal yang berlayar menuju Korea Utara, yang dipimpin Kim Jong Un.

    Rencana ini akan dibahas dalam sebuah pertemuan antara menteri-menteri luar negeri negara sekutu AS di Vancouver, Kanada, pada pekan depan. Cian dan Rusia, yang juga diundang, menolak hadir.

    Baca: Trump Ingin Sekali Berbicara dengan Kim Jong Un, Kenapa?

     

    Negara-negara itu mempertimbangkan untuk mulai mencegat kapal-kapal yang menuju ke Korea Utara dalam upaya memblokir pengiriman ilegal ke rezim komunis pimpinan Kim Jong-un.

    Baca: Balas Kim Jong Un, Trump: Saya Juga Punya Tombol Nuklir, Namun...

     

    Pencegatan kapal-kapal ini dilakukan untuk memeriksa barang-barang terlarang yang berdasarkan sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang telah dua kali dijatuhkan atas desakan AS.

    Direktur Kebijakan Perencanaan di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Brian Hook, mengatakan Menteri Luar Negeri, Rex Tillerson, sedang mencari cara untuk menerapkan mekanisme yang lebih praktis untuk meningkatkan tekanan pada Pyongyang.

    "Kami juga akan membahas larangan maritim," kata Hook dalam mengomentari larangan kapal apapun dalam upaya memperkuat sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa melawan rezim Kim Jong-un.

    Namun, beberapa negara, termasuk sekutu Washington, menganggap metode ini akan meningkatkan ketegangan militer atau disalahartikan sebagai tindakan perang oleh Jong-un.

    Hook mengatakan itu adalah salah satu dari berbagai proposal yang harus diajukan pada pertemuan itu.

    Pembicaraan mengenai program nuklir Korea Utara akan disertai oleh beberapa negara lain, kecuali Cina dan Rusia.

    Tetangga Pyongyang, yaitu Cina dan Rusia, telah menolak untuk berpartisipasi dalam diskusi itu dan banyak yang mempertanyakan keefektifan pertemuan tersebut dengan tidak adanya pemain regional yang berpengaruh.

    Sebagai gantinya, daftar tamu terdiri dari apa yang disebut "negara pengirim", negara-negara yang mengirim pasukan sebagai bagian dari kekuatan Perserikatan Bangsa Bangsa selama Perang Korea lebih dari enam dekade yang lalu.

    Tujuan pertemuan itu adalah untuk menemukan cara untuk memeras lebih lanjut uang dan sumber daya Korea Utara, yang dibutuhkan untuk pengembangan senjata, yang terus berlanjut meski telah mendapat sanksi hukuman dan kecaman di seluruh dunia.

    Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Kono, dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Kang Kyung-wha, akan menghadiri pertemuan pada Selasa nanti. Trump sebelumnya telah mengatakan bersedia berbicara dengan Kim Jong Un dan mengirimkan delegasi perundingan damai.

    THE STAR | YONHAP | NHK NEWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.