Taiwan Kabulkan Ibu Tuntut Anak Bayar Biaya Saat Membesarkannya

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ibu mengawasi anaknya bermain gadget. shutterstock.com

    Ilustrasi ibu mengawasi anaknya bermain gadget. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Pengadilan Mahkamah Taiwan memerintahkan seorang pria berprofesi sebagai dokter gigi untuk membayar ibu kandungnya sebesar NT$22,33 juta atau sekitar Rp 10 miliar. Uang itu untuk membayar biaya yang dikeluarkan ibunya untuk membesarkan dan mendidiknya.

    Perintah Mahkamah Taiwan yang dibacakan pada hari Selasa, 2 Januari 2018 ditujukan kepada dokter gigi dengan nama keluarga Chu, usia 41 tahun. Ia diharuskan menghormati perjanjian yang dibuatnya bersama ibunya 20 tahun lalu.

    Baca: Di Negara Ini, Warga Lansia Pilih Dipenjara

    Namun, masalah muncul hingga kasus ini pun bergulir ke pengadilan.

    Ceritanya berawal ketika sang ibu bernama panggilan Lo cerai dengan suaminya tahun 1990. Lo kemudian sendirian membesarkan dua anak laki-lakinya, seperti dikutip dari The Straits Times 3 Januari 2018.

    Dilandasi rasa khawatir akan masa tua tak ada orang yang akan merawatnya, Lo pun setuju menandatangani kontrak dengan kedua anak laki-lakinya saat keduanya berusia 20 tahun.

    Perjanjian ibu dan anak ini isinya adalah keduanya membayar 60 persen dari profit yang mereka dapat dari penghasilannya untuk membayar kembali biaya membesarkan dan mendidik yang dikeluarkan ibunya.

    Baca: Tak Balas Pesan, Pria Taiwan Ini Diceraikan Istri

    Dalam perjalanan waktu, kedua anaknya mengabaikan perjanjian dengan ibunya setelah mereka mulai menjalin kasih. Bahkan kekasih mereka mengirim surat melalui pengacara mereka untuk menuntut sang calon mertua untuk tidak menganggu kedua anak laki-lakinya.

    Sang ibu kemudian melayangkan gugatan ke pengadilan delapan tahun lalu, saat mereka menolak menghormati perjanjian itu. Kemudian, anak tertuanya membayarnya NT$5 juta untuk menyelesaikan masalah ini.

    Namun, anak keduanya beranggapan kontrak perjanjian itu mencederai norma umum bahwa membesarkan anak tidak seharusnya diukur dengan uang. Lalu, ia bertarung melawan ibunya di pengadilan.

    Lo kalah di tingkat banding. Pengadilan banding berpihak ke anak laki-lakinya. Wanita ini kemudian mengajukan banding ke pengadilan mahkamah.

    Pengadilan mahkamah memenangkan banding Lo dengan alasan kontrak perjanjian dinilai valid dan Chu, sang anak, saat menandatangani kontrak itu sudah berusia dewasa. Dan, dia sebagai dokter gigi memiliki kesanggupan membayar kembali ke ibunya.

    Kasus-kasus pengabaian terhadap warga lanjut usia di Taiwan terus meningkat beberapa tahun terakhir. Situasi ini mendorong munculnya tuntutan dibuat undang-undang untuk memenjarakan mereka yang tidak merawat orang tua mereka. Undang-undang masih digodok.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.