Menyambangi Korea Utara saat Krisis Nuklir Meningkat

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kue berbentuk rudal Korea Utara. theaustralian.com.au

    Kue berbentuk rudal Korea Utara. theaustralian.com.au

    TEMPO.CO, Jakarta -Ambisi Korea Utara untuk menjadi negara berkekuatan senjata nuklir terhampar dalam pemandangan ibukota Pyongyang. Sebuah patung bom atom terlihat nemplok di atap sebuah apartemen baru, yang dibangun khusus untuk para ilmuwan nuklir.

    Desain-desain yang mengingatkan akan bom atom terlihat pada jalan layang, tiang lampu, dan dinding bangunan. Gambar-gambar bernuansa bom menghiasi pemandangan sehari-hari. Di sebuah panti asuhan, anak-anak bermain dengan mainan peluncur roket plastik dan bukannya bermain mobil-mobilan.

    Baca: Dikirimi Jet Tempur, Korea Utara: Donald Trump Presiden Jahat

    Toko-toko menjual berbagai perangko dengan gambar roket balistik antarbenua dan sebuah toko roti menjual kue-kue dengan bentuk roket tegak berdiri siap diluncurkan.

      Ini kesan yang terlihat oleh rombongan wartawan The Wall Street Journal, yang mengunjungi negara komunis itu pada 14 – 19 September  2017. Ini merupakan kunjungan pertama media itu sejak 2008.

    Baca: Perang Kata Berlanjut, Donald Trump Sebut Little Rocket Man

    Pejabat Korea Utara yang mendampingi dalam kunjungan yang diatur ketat ini berulang kali mengatakan kepada wartawan media ini bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan senjata nuklir apapun alasannya juga.

    Rezim Kim Jong-un ini juga bertekad bakal menahan sanksi ekonomi, yang telah dijatuhkan dunia internasional. Pemerintah Korea Utara juga siap berperang dengan Amerika Serikat untuk mempertahankan senjata nuklir ini.

    “Sudah telat, kami sudah dewasa sekarang,” kata Ri Yong-pil, wakil presiden Institut Studi Amerika, sebuah divisi dibawah Kementerian Luar Negeri Korea Utara. “Kami tidak tertarik melakukan dialog hanya untuk mengecilkan status strategis yang baru saja terbangun.”

    Isu Korea Utara mengemuka ke panggung internasional setelah rezim Kim Jong-un menggelar serangkaian peluncuran rudal balistik jarak jauh dan menengah sejak awal tahun ini. Rezim itu juga melakukan uji coba peledakan bom hidrogen di pusat pengembangan bom nuklir ‎Punggye-ri.

    Kunjungan media Wall Street Journal, yang beritanya juga dipublikasikan oleh media The Australian, ini terjadi saat ketegangan antara AS dan Korea Utara meningkat drastis. Rombongan wartawan ini meninggalkan Pyongyang beberapa jam sebelum pidato Presiden AS, Donald Trump, di pembukaan Sidang Umum PBB pada awal pekan lalu. Saat itu Trump bertekad akan menghancurkan Korea Utara jika negara itu berani menyerang AS dan sekutunya.

    Saat itu, Trump juga menjuluki Kim Jong un sebagai 'Manusia Roket' (Rocket Man), yang sedang melakukan misi bunuh diri untuk diri dan rezimnya.

    Pada hari itu, media pemerintah Korea Utara, menurunkan berita bahwa semua ‘yankee’, yang merupakan sebutan bagi orang AS, harus dipukuli hingga mati seperti memukuli anjing gila. Ini respon karena AS dinilai berhasil membujuk Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Korea Utara.

    Pemerintah Korea Utara menggunakan kunjungan media Wall Street Journal dan media lainnya dari AS untuk menjelaskan alasan logis mengapa negara itu merasa perlu mengembangkan program senjata nuklir.

    Kunjungan media ini berjalan secara ketat atas ijin pemerintah Korea Utara. Lokasi yang dikunjungi juga ditentukan pemerintah. Rombongan media ini gagal mengunjungi dua warga negara AS yang ditahan pemerintah Korea Utara saat bekerja di sebuah universitas di Pyongyang.

    Rombongan ini juga diizinkan berbicara dengan warga yang ditemui di jalan namun translasinya dilakukan petugas Korea Utara.

    Menurut pejabat Korea Utara, sistem persenjataan, termasuk senjata nuklir yang dikembangkan, bisa mencapai AS. Namun ini hanya untuk pertahanan belaka. Ini dilakukan untuk mengakhiri ancaman terus menerus dari AS, yang menaruh pasukan di Korea Selatan sejak 1953. Mereka mengatakan  pemerintah Korea Utara ingin memaksa pemerintah AS untuk setara dalam sistem deterrence (karena keduanya bisa saling menyerang dan menghancurkan). Ini mirip dengan kondisi Perang Dingin antara AS dan Uni Sovyet.

    Para pejabat ini mengajukan sejumlah pertanyaan yang sulit dijawab kepada rombongan media Wall Street Journal seperti: Siapa penasehat utama Trump? Apakah Menlu Rex Tillerson bakal diberhentikan? Salah seorang pejabat mengaku penasaran apakah ada banyak tentara transgender di militer AS.

    Mereka meyakini AS berniat menghancurkan Korea Utara sejak Perang Dingin. Apalagi AS pernah menyebut negara ini sebagai bagian dari Poros Setan (Axis of Evil) pada 2002.

    Korea Utara sendiri merupakan satu dari beberapa rezim represif brutal di dunia. Pada 1990an, negara ini mengalami kelaparan yang menewaskan ratusan ribu rakyatnya. Terlebih rezim tiran Korea Utara ini mengalihkan bahan makanan dalam skala besar untuk militer dan bukan untuk rakyatnya yang sedang kelaparan. Saat ini, ada puluhan ribu orang Korea Utara yang diyakini ditahan dan disiksa di penjara-penjara rahasia pemerintah untuk meredam sikap kritis masyarakat.

    Pejabat Korea Utara membantah adanya penjara-penjara rahasia ini dan mengatakan semua warga negaranya menikmati Hak Asasi Manusia. Mereka menyalahkan sanksi ekonomi AS dan cuaca buruk, yang mengakibatkan kelaparan massal saat itu.

    Dalam wawancara Wall Street Journal dengan warga, mereka mengaku mendukung program rudal dan bertekad siap berkorban jika sanksi ekonomi dijatuhkan. “Kami akan mencapai kemenangan final terhadap AS,” kata seorang bartender. “Saya harap pemerintah akan meluncurkan 20-30 rudal per hari.”

     Warga dan pejabat pemerintah juga menyatakan kekecewaannya terhadap sikap pemerintah Cina, yang belakangan mendukung sanksi ekonomi terhadap Korea Utara. Mereka merujuk sikap pemerintah Cina sebelumnya yang selalu mendukung rezim di negara itu.  

    Ibukota Pyongyang terlihat nyaris tanpa cela. Sebuah museum perang yang memiliki ruang besar mewah berlantai marmer, yang membutuhkan empat hari untuk mengitarinya hingga tuntas, terlihat sepi nyaris tanpa pengunjung pada suatu pagi.

    Jalan raya yang lebar terlihat lengang tanpa kemacetan meskipun kota ini berpenduduk tiga juta orang. Sebuah gereja protestan juga terlihat sepi pengunjung, hanya terlihat beberapa orang nenek. Khotbahnya juga berisi semangat antiAmerika.

    Di Pyongyang ini, Kim Jong-ung membangun sejumlah gedung pencakar langit untuk para peneliti dan dosen universitas. Ini didukung ekonomi negara yang mengalami pertumbuhan baik karena berdagang dengan Cina. Di kota ini juga ada sebuah taman air untuk masyarakat.

    Sebuah perpustakaan teknologi dan sains memiliki laboratorium komputer yang terkoneksi ke sistem internet internal Korea Utara. Ini karena negara itu nyaris terputus dari akses ke global internet.

    Rombongan wartawan diberikan fasilitas menginap di sebuah vila mewah dengan lantai marmer dan gelas, yang terletak di pinggiran kota Pyongyang. Mereka dibolehkan berjalan-jalan ke sekitar lokasi penginapan meskipun suatu kali seorang tentara bersenjata mengarahkan mereka agar segera kembali ke penginapan.

    Kegiatan propaganda pemerintah di kota ini terasa dimana-mana dari poster-poster anti AS, slogan, hingga lagu patriotik, yang terkadang bernuansa rock. Pesan yang dibawakan lagu itu berisi cerita tiga generasi keluarga Kim, yang menjadi pemimpin Korea Utara selama tujuh dekade terakhir dengan kekuatan tangan besi.  Mereka meminta rakyat patuh sepenuhnya kepada keputusan pemerintah.

    Di sebuah rumah sakit mata yang baru dibangun, Direktur Urusan Eksternal, Kim Un-ae, bercerita soal arahan dari Kim Jong un. Rumah sakit yang dibangun selama enam bulan ini memiliki jendela berbentuk mata. Menurut dia, Kim mengunjungi bangunan ini pada 26 Mei 2016 saat proses pembangunan sedang berlangsung untuk memberikan pengarahan.

    Kim dikabarkan meminta perubahan logo rumah sakit itu dengan menambahkan garis kedua pada alis dengan warna hijau sehingga terlihat nyaman dipandang. Dia juga dikabarkan mengarahkan toko di dalam rumah sakit itu mengenai cara mengatur dagangan frame fotonya.

    Sedangkan kalangan elit terlihat hidup nyaman. Sebuah restoran sushi yang dijalankan mantan kepala koki Kim Jong il, ayah Kim Jong un, menyediakan makanan seharga $125 atau sekitar Rp1,7 juta.

    Sebuah supermarket di jalan Kwangbok menjual berbagai produk dari teh hingga wiski Jepang seharga sekitar Rp 1 juta.

    Warga juga terlihat bermain video di ponsel buatan lokal meskipun tidak terkoneksi ke global internet. Salah seorang orang tua mengaku khawatir dengan waktu yang dihabiskan anaknya bermain games, mirip dengan kekhawatiran orang tua di AS.

    Panel surya terlihat bertenger diatas atap rumah dan bangunan di Pyongyang sebagai sumber energi alternatif. Ini membuat warga tidak terlalu tergantung pada sumber energi dari pemerintah.

    Ekonomi Korea Utara tumbuh sekitar 3,9 persen pada tahun lalu menjadi sekitar US$ 32 billion atau sekitar Rp 430 triliun menurut perkiraan bank sentral Korea Selatan. Ini karena data dari Pyongyang tidak bisa diandalkan akurasinya. Jika betul, maka ini pertumbuhan ekonomi tertinggi negara itu sejak 1999.

    Pemerintah AS mencoba menekan Kim Jong un dengan menekan pertumbuhan ekonomi Korea Utara lewat sanksi ekonomi, termasuk membatasi minyak bumi yang bisa dibelinya. Saat media sedang berada di negara ini, Donald Trump sempat mencuit ada antrian panjang di stasiun pengisian bahan bakar. Namun, rombongan wartawan tidak melihat ada antrian di empat stasiun pengisian bahan bakar yang dilewati saat di Pyongyang.

    Menurut Ri Gi-Song, seorang ahli ekonomi di Akademi Ilmu Sosial Korea Utara, negara ini mampu menghadapi sanksi ekonomi. Ini karena Korea Utara bisa mengakali sanksi ini dengan bekerja sama dengan negara sekutu. “Coba tebak negara mana,” kata dia. Saat disebut negara itu adalah Iran dan Venezuela, dia hanya tersenyum.

    Media juga diizinkan berbicara dengan Ri Shong-ho, yang menjadi direktur di Golden Cup Trading co, sebuah perusahaan milik negara. Menurut dia, perusahaan ini membuat sekitar 700 jenis snack dan minuman serta perman dan roti.

    “Sejak anak-anak kami telah belajar cara mengatasi keadaan yang sulit,” kata dia yang bertekad memproduksi lebih banyak makanan dan minuman untuk mengatasi sanksi ekonomi dunia internasional.

    Ri Shong juga mengaku yakin AS tidak akan menyerang Korea Utara . “Kami sekarang punya senjata nuklir untuk membela diri. Saya yakin dalam beberapa hari ini bakal ada berita yang mengatakan AS tidak akan menyerang,” kata dia.

    THE AUSTRALIAN | WALL STREET JOURNAL | BUDI RIZA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...