Selasa, 22 Agustus 2017

Prancis Tangkap Seorang Pria Terduga Penabrak 6 Tentara

Kamis, 10 Agustus 2017 | 11:45 WIB
Mobil BMW dengan yang diduga menabrakkan rombongan tentara di Marquise, Prancis, 9 Agustus 2017. REUTERS/Pascal Rossignol

Mobil BMW dengan yang diduga menabrakkan rombongan tentara di Marquise, Prancis, 9 Agustus 2017. REUTERS/Pascal Rossignol.

TEMPO.CO, Paris—Polisi Prancis menangkap seorang pria berusia 36 tahun yang diduga menabrak sekelompok tentara dengan mobil BMW di luar ibu kota Paris dan melukai enam diantaranya.

Seperti dilansir Guardian, Rabu 9 Agustus 2017, polisi mengatakan pria itu ditembak lima kali dalam pengejaran di dekat pom bensin antara wilayah Boulogne-sur-Mer dan Calais.

“Pria itu kini dirawat di rumah sakit sementara seorang polisi terluka dalam pengejaran tersebut,” demikian pernyataan polisi Prancis.

Hingga saat ini polisi belum mengidentifikasi pria itu, tetapi mengakui bahwa ia tidak masuk dalam daftar keamanan nasional.

Polisi menyatakan mobil sewaan warna hitam merk BMW yang dikendarai pria itu dipastikan sama dengan mobil yang menabrak para tentara.


Baca: 6 Tentara Prancis Cedera Korban Tabrak Lari BMW

Kepolisian Prancis kini tengah menggeledah rumah terduga untuk mencari kaitan dengan kelompok teroris. Mereka belum dapat memastikan keterlibatan pria itu.

Namun Perdana Menteri Edouard Philippe menegaskan bahwa orang yang ditangkap adalah orang yang sama yang melakukan serangan tersebut.

Unit kontra-terorisme Prancis kini tengah dalam penyelidikan lebih lanjut terkait serangan di pinggiran barat laut Paris, yang menyebabkan enam tentara terluka. Menurut polisi Paris, tiga di antaranya dalam kondisi serius meski lukanya tak mengancam jiwa.

Menteri Dalam Negeri Paris, Gerard Collomb mengatakan serangan itu adalah "tindakan yang disengaja."

"Mobil melaju ke arah tentara sejauh lima meter untuk menabrak sekelompok tentara," kata Collomb. "Kami tidak yakin insiden itu merupakan kecelakaan."

Wali kota Levallois-Perret, Patrick Balkany, mengatakan bahwa mobil tersebut sudah mengambil ancang-ancang di sebuah gang kecil, menunggu pasukan dari Resimen Infanteri ke-35 keluar dari gedung tersebut.

Kelompok tentara tersebut merupakan bagian dari Operasi Sentinel Prancis, yang dibentuk setelah serangan teror Charlie Hebdo pada Januari 2015. Sementara lokasi serangan di Levallois-Perret, lingkungan yang tenang dan makmur, adalah rumah bagi markas besar DCRI, badan intelijen Prancis.

Seorang saksi mata yang diidentifikasi sebagai Zakia mengatakan kepada BFMTV bahwa dia terbangun oleh suara seperti ledakan, lalu berlari ke balkon untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

"Saya melihat seorang tentara tergeletak di tanah... lalu petugas pemadam kebakaran dan paramedis tiba," katanya. "Saya melihat keseluruhan pemandangan, dan saya sangat terkejut."

Wanita lain yang tidak disebutkan namanya menuturkan bahwa dia mendengar suara dentuman besar dari kecelakaan mobil."

"Kami melihat semua kendaraan darurat, petugas pemadam kebakaran, polisi, paramedis. Kami melihat dua orang di tanah, dirawat oleh petugas pemadam kebakaran dan dokter."

Penabrakan tentara dengan mobil merupakan penyerangan keenam terhadap pasukan keamanan Prancis pada 2017. Insiden sebelumnya terjadi di tempat-tempat wisata terkenal Paris seperti Louvre, Champs-Elysees, Katedral Notre Dame, dan bandara Orly.

Prancis dalam keadaan darurat setelah serentetan serangan teror dan tentara berpatroli rutin di sekitar Paris. Pemerintah menetapkan negara itu berada berada dalam siaga tinggi setelah serangkaian serangan teror yang diklaim oleh ISIS.

GUARDIAN | BBC | SITA PLANASARI AQUADINI

 

 

 

 


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?