Bentrok Bersenjata di Myanmar, Puluhan Minoritas Rohingya Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga Rohingya terlihat di antara rumah yang terbakar saat terjadinya bentrokan antara kaum Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya di Sittwe, Myanmar, Minggu (10/6). REUTERS/Staff

    Sejumlah warga Rohingya terlihat di antara rumah yang terbakar saat terjadinya bentrokan antara kaum Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya di Sittwe, Myanmar, Minggu (10/6). REUTERS/Staff

    TEMPO.CO, Yangoon - Bentrokan bersenjata terjadi negara bagian Rakhine, Myanmar, sepanjang akhir pekan lalu. Sekitar 30 pemberontak muslim Rohingya tewas selama pertempuran dua hari dengan militer Myanmar. Wilayah utara Rakhine merupakan kawasan permukiman minoritas Muslim Rohingya yang berbatasan Bangladesh. Kawasan ini menjadi target operasi militer Myanmar, sejak terjadi serangan di pos perbatasan yang menewaskan sembilan polisi Myanmar Oktober 2016.

    Pernyataan militer Myanmar mengatakan 22 penyerang bersenjata tewas dekat desa Dar Gyi Zar pada Minggu pagi 13 November 2016 setelah bentrok bersenjata dengan tentara pemerintah. Enam pemberontak lainnya tewas dalam bentrokan di tempat lain di negara bagian yang sama. “Militan Rohingya terkait dengan militan di luar negeri,” ujar pernyataan itu.

    Pada Sabtu malam, 12 November 2016, aktivis Rohingya mengunggah rekaman video yang menunjukan mayat delapan orang mengenakan pakaian sipil, termasuk seorang bayi kecil. Disebutkan juga, korban meninggal pada hari itu di dekat desa Dar Gyi Zar, dengan beberapa luka peluru. Tapi rekaman itu sulit diverifikasi keasliannya.
    Baca:
    Obama Terima Pencari Suaka Australia, Bagaimana Trump?
    Beritakan Suap, Pimpinan Media di Myanmar Masuk Penjara

    Konflik etnis minoritas Rohingya masih berlanjut meski pemerintahan baru yang dipimpin aktivis demokrasi Aung San Suu Kyi sudah mengambil alih pemerintahan dari kalangan militer. Konflik mayoritas pemeluk Budha dengan minoritas Rohingya menyebabkan 200 orang tewas pada 2012. Sekitar 100 ribu orang minoritas Rohingnya berlindung di kamp pengungsian selama bentrokan berdarah berlangsung.

    Kelompok hak azasi telah berulangkali mendesak Suu Kyi membuat solusi bagi minoritas Rohingya. Tapi kelompok nasionalis Budha menentang upaya memberikan kewarganegaraan bagi minoritas Rohingya, karena kelompok ini dinilai hanyalah imigran ilegal dari Bangladesh.

    Human Rights Watch merilis citra satelit pada Minggu 13 November 2016 yang menunjukkan pembakaran massal terhadap desa Rohingya. Hasil analisis kelompok ini menyatakan 400 bangunan dibakar di tiga desa Rohingya tempat pertempuran berkecamuk.

    Brad Adams, Direktur Human Rights Watch untuk kawasan Asia, mengatakan foto-foto baru menunjukan kerusakan luas yang lebih besar dari yang diperkirakan semula. “Otoritas Burma harus segera membentuk tim investigasi yang dibantu PBB sebagai langkah awal untuk menjamin keadilan dan keamanan bagi korban,” kata Adams dalam pernyataan.

    Tapi militer dan pemerintah menolak tuduhan bahwa pasukan pemerintah yang membakar desa Rohingya, dengan menuduh gerilyawan Rohingya yang justru pelaku pembakaran.

    CHANNELNEWSASIA.COM | DWI ADE |MR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.