Menjelang Serbuan Irak, Para Pemimpin ISIS Kabur ke Suriah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang jemaah membaca Al-Quran sebelum melaksanakan melaksanakan salat Idul Fitri di bekas lokasi serangan bom bunuh diri di kawasan perbelanjaan Karrada, Baghdad, Irak, 6 Juli 2016. Muslim Syiah menjadi target bom bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok militan ISIS pada pekan lalu. REUTERS

    Seorang jemaah membaca Al-Quran sebelum melaksanakan melaksanakan salat Idul Fitri di bekas lokasi serangan bom bunuh diri di kawasan perbelanjaan Karrada, Baghdad, Irak, 6 Juli 2016. Muslim Syiah menjadi target bom bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok militan ISIS pada pekan lalu. REUTERS

    TEMPO.COJakarta - Banyak pemimpin kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang kabur bersama keluarganya dari Mosul di Irak menuju Suriah. Aksi ini muncul menjelang ofensif besar-besaran pasukan Irak yang didukung Amerika Serikat ke kota itu.

    Menteri Pertahanan Irak Khaled al-Obeidi, seperti dikutip Reuters, mengaku memiliki data intelijen bahwa ISIS dilanda perpecahan, terutama menyangkut masalah keuangan, di antara para militer garis keras organisasi militan yang disebut Daesh oleh orang Arab itu.

    "Banyak keluarga dan pemimpin Daesh di Mosul menjual propertinya dan menyelinap ke Suriah. Sebagian lainnya bahkan berusaha menyelinap ke wilayah Kurdi (Irak)", kata Obeidi dalam wawancara dengan televisi nasional.

    ISIS kehilangan separuh wilayahnya di Irak yang direbutnya pada 2014. ISIS juga kehilangan banyak wilayah di Suriah. Jumlah petempur ISIS di Mosul, yang menjadi ibu kota de facto-nya di Irak dan menjadi kota kedua terbesar yang diduduki ISIS, kini menyusut sampai di bawah 10 ribu.

    Pasukan Irak sendiri telah memobilisasi pasukan berkekuatan 30 ribu orang untuk merebut kembali Mosul di bawah dukungan serangan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat. Ofensif ke Mosul mendapat momentum dalam beberapa pekan belakangan setelah pasukan pemerintah merebut Falluja dan menduduki lagi sebuah pangkalan udara di selatan Mosul.

    Obeidi mengatakan tantangan terbesar bagi Irak adalah melindungi warga sipil yang jumlahnya mencapai dua juta orang. Palang Merah Internasional menyatakan lebih dari sejuta orang terusir dari Mosul. Sedangkan PBB menyebutkan angka yang jauh lebih besar.

    Saat ini sepuluh juta penduduk Irak membutuhkan bantuan, termasuk sekitar tiga juta orang yang tercerai-berai di dalam negeri, yang merupakan sepersepuluh dari total penduduk Irak. Demikian dilansir Reuters.

    ANTARANEWS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.