Wajah Mashiki, Kota Terparah di Jepang yang Diterjang Gempa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintas diantara bangunan yang rusak akibat gempa bumi berkekuatan 6.5 Sr yang melanda kota Mashiki, Jepang, 15 April 2016. AP

    Warga melintas diantara bangunan yang rusak akibat gempa bumi berkekuatan 6.5 Sr yang melanda kota Mashiki, Jepang, 15 April 2016. AP

    TEMPO.CO, Jakarta -Gempa besar telah melanda bagian barat daya Jepang pada Kamis, 14 April 2016. Gempa tersebut menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada bangunan, menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai ratusan warga lainnya. Tim penyelamat berusaha menemukan warga yang dikhawatirkan masih terperangkap dalam reruntuhan.

    Delapan dari mereka yang tewas barasal dari Mashiki. Kota tersebut dilaporkan mengalami kerusakan terparah. Mashiki berada sekitar 15 km sebelah timur dari kota Kumamoto di Pulau Kyushu yang menjadi pusat gempa.

    Badan Meteorologi Jepang mengatakan, seperti yang dikutip News.com.au,  gempa 6,5 SR terjadi pada pukul 21:26 waktu setempat, pada kedalaman 11 kilometer di dekat kota Kumamoto di Pulau Kyushu. Dilaporkan pula bahwa gempa tersebut tidak berisiko tsunami.

    Baca juga: Gempa di Jepang, 9 Orang Tewas dan 761 Orang Luka-luka

    Lebih dari 100 kali gempa susulan yang cukup kuat dirasakan di daerah tersebut. Sebuah video yang ditayangan stasiun TV NHK juga menunjukkan petugas pemadam kebakaran sedang mengevakuasi kobaran api di sebuah gedung di Mashiki.

    Kota Mashiki merupakan kota dengan jumlah penduduk sekitar 34.000 orang. Kyushu Electric Power Co Inc mengumumkan adanya pemutusan aliran listrik bagi sekitar 16.500 rumah tangga di sekitar Mashiki pada pukul 02:00 waktu setempat.

    Perdana Menteri Shinzo Abe mengadakan pertemuan dengan para pejabat manajemen bencana. Dia berjanji pemerintah akan melakukan segala kemungkinan untuk mendukung pencarian dan penyelamatan. Ia juga akan mengerahkan personil untuk bekerja dan membantu warga selama masa pengungsian.

    “Kami sedang melakukan segala sesuatu untuk menghindari bencana kedua karena gempa susulan dan menyediakan bantuan yang diperlukan untuk para korban,” katanya kepada wartawan pagi ini. Media Jepang juga sempat menunjukkan keadaan korban. Beberapa dari mereka terbungkus selimut sedang meringkuk di tempat parkir dan ruang terbuka lainnya karena takut bangunan runtuh akibat gempa susulan.

    “Gedung apartemen yang saya tinggali sekarang posisinya miring. Semuanya jatuh. Kondisinya kacau,” kata penduduk laki-laki di Mashiki kepada stasiun TV NHK. “Getarannya begitu kuat. Saya sampai tidak bisa berdiri,” kata Prefektur Polisi Kumamoto Hironobu Kosaki yang pada saat kejadian gempa sedang bertugas.

    Pejabat dari manajemen bencana mengkonfirmasi sedikitnya sembilan orang tewas. “Sejauh yang kami tahu dari gambar inframerah yang diambil oleh helikopter patroli, tampaknya ada sejumlah besar rumah yang hancur atau setengah runtuh,” kata Menteri Bencana Taro Kono. “Ada kekhawatiran jumlah korban cedera bisa meningkat,” katanya.

    NHK juga sempat melaporkan ditemukan seorang bayi berusia delapan bulan yang dievakuasi dari reruntuhan dalam kondisi masih hidup.

    Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga mengatakan ada sekitar 350 personil militer dikerahkan untuk proses penyelamatan. “Saya meminta orang-orang di daerah bencana untuk bertindak dengan tenang dan saling membantu,” katanya.

    Sempat dilaporkan, di kota Mashiki, puluhan orang berkumpul di depan balai kota dalam kondisi ketakutan. Beberapa orang terlihat menangis sementara yang lain membungkus diri dalam selimut karena malam itu udara cukup dingin. Para pejabat prefektur di Kumamoto mengatakan mereka sedang mempertimbangkan mengevakuasi rumah sakit yang rusak parah. Sementara beberapa produsen utama termasuk Honda, Bridgestone, Mitsubishi dan Sony menghentikan operasi di pabrik-pabrik mereka.

    Dua reaktor nuklir yang terletak di Kyushu dilaporkan berfungsi normal. Pusat gempa berada 120 km sebelah timur laut dari Sendai. Pembangkit nuklir Kyushu Electric Power Co ini merupakan satu-satunya yang beroperasi di negara tersebut. Sebagian besar reaktor nuklir Jepang dalam kondisi offline setelah kebocoran di pabrik Tokyo Electric Power Co Fukushima pada 2011 akibat gempa berkekuatan 9,0 SR yang juga memicu tsunami besar.

    Layanan kereta api di Kyushu untuk sementara dihentikan setelah gempa bumi tersebut. Juru bicara untuk operator JR Kyushu mengatakan kereta supercepat sempat tergelincir, namun tidak ada penumpang di dalamnya saat itu. Dia mengatakan belum dikonfirmasi apakah kereta sedang melaju atau terparkir di stasioner ketika gempa melanda.

    Matsushita menyatakan salah satu korban di Mashiki meninggal setelah dievakuasi dari reruntuhan. Korban lainnya tewas dalam kebakaran. Orang ketiga yang dievakuasi dari bawah bangunan yang runtuh ditemukan dalam kondisi gagal jantung dan paru-paru. Matsushita mengatakan operasi penyelamatan berulang kali terganggu oleh gempa susulan.

    "Seluruh rumah bergetar keras,” kata Takahiko Morita, warga Mashiki dalam sebuah wawancara telepon dengan NHK Jepang . “Furniture dan rak buku jatuh berserakan ke lantai,” katanya. Morita juga mengatakan beberapa rumah di lingkungannya roboh dan pasokan air telah terputus.

    Keisukei Urata, seorang pejabat di Kota Uki yang sedang dalam perjalanan pulang ketika gempa melanda, mengatakan kepada NHK bahwa bagian dari langit-langit di Balai Kota Uki runtuh, jendela pecah dan lemari jatuh ke lantai. Kasumi Nakamura, seorang pejabat di Nishihara, mengatakan bahwa getaran berlangsung sekitar 30 detik.

    “Makalah, tumpukan berkas, vas bunga dan segala sesuatu jatuh ke lantai,” katanya kepada NHK. Para ahli mengatakan gempa susulan kemungkinan besar akan berlanjut selama sekitar satu minggu.

    Secara geografis, Jepang berada di persimpangan empat lempeng tektonik yang mengakibatkan sekitar 20 persen dari gempa bumi paling kuat di dunia. Namun, dengan adanya building codes dan penegakan hukum yang tegas kerusakan dapat diminimalisir.

    Pada bulan Maret 2011, gempa berkekuatan 9 SR juga sempat melanda lepas pantai utara Tokyo. Gempa tersebut menyebabkan gelombang tsunami di sepanjang pantai yang menewaskan hampir 20.000 orang dan memicu krisis pembangkit listrik tenaga nuklir. Sementara itu, dilaporkan pula bahwa hari ini di Vanuatu juga dilanda gempa berkekuatan 6,5 SR. Tidak ada peringatan tsunami untuk kejadian tersebut. Sejauh ini belum dilaporkan adanya kerusakan.

    NEWS.COM.AU | SELFY MOMONGAN (magang)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.