Dubes Rusia: Operasi di Suriah Didukung Satelit Intelijen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Yurievich Galuzin, di acara Diplomat Day, 12 Februari 2016. Tempo/Natalia Santi

    Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Yurievich Galuzin, di acara Diplomat Day, 12 Februari 2016. Tempo/Natalia Santi

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Yurievich Galuzin, menampik tuduhan pemerintahnya menyerang  warga dan fasilitas sipil dalam operasi militer melawan terorisme di Suriah. Menurut Galuzin, militer Rusia membidik sasaran dengan pertimbangan seksama dan hati-hati, termasuk memastikan target ke pusat informasi intelijen di Irak dan Yordania.

    “Pertama-tama, kami melakukan operasi secara sah, atas permintaan pemerintahan Suriah yang sah,” kata Galuzin di sela-sela acara Diplomatik Day di Jakarta, Jumat, 12 Februari 2016.

    Negara-negara Barat, termasuk medianya menuduh Rusia melakukan pengeboman warga dan fasilitas sipil, seperti di Aleppo, tetapi tidak menunjukkan bukti-bukti. “Mereka memperlihatkan kota Aleppo yang telah lama hancur oleh ISIS, dan pengeboman koalisi Amerika Serikat, bukan Rusia. Tidak ada bukti, meski kami memintanya,” kata Galuzin.

    Adapun aliran pengungsi telah terjadi sejak ISIS merajalela dan sejak serangan udara koalisi AS. “Krisis migran di Eropa, itu akibat serangan udara koalisi AS,” kata dia.

    Rusia telah meminta kepada Barat soal letak teroris di Suriah. Namun tidak pernah diberikan. Karena itu, Rusia bekerja sama dengan Irak, Iran, Suriah dan Yordania untuk memastikan sasaran. “Kami mempertimbangkan dengan seksama dengan operasi militer yang terukur,” kata Galuzin yang merayakan Diplomatic Day dengan berpidato “Kebijakan Rusia, Pembentukan Dunia yang Adil dan Polisentris.”

    “Jaringan intelijen kami ada di sana. Lewat satelit intelijen, kami bisa melihat dengan cukup persis di mana mereka dan fasilitasnya berada,” kata Galuzin.  “Kami cek informasi ini ke pusat informasi di Baghdad dan Amman, yang kami bentuk bersama Irak, Iran, Suriah dan Yordania,” tambah dia.

    Selain menggunakan informasi dari pemerintah Suriah, Rusia juga menggunakan informasi dari oposisi Presiden Bashar Al Assad. “Kami bekerja sama dengan mereka di lapangan. Meski mereka punya masalah dengan pemerintah Bashar Al-Assad, tapi soal memerangi teroris, mereka sekutu kami,” kata Galuzin.

    Selain membidik teroris dengan tepat sasaran, Rusia juga menyasar bisnis minyak ISIS yang diperdagangkan secara ilegal.  Minyak tersebut, Galuzin menuturkan, dikirim lewat wilayah Turki dengan bantuan pemerintah. “Menurut informasi kami pemerintah Turki mendapat keuntungan dari penjualan itu. Karena itu, pemerintah Turki marah  menembak jatuh pesawat kami,” kata Galuzin merujuk peristiwa penembakan pesawat tempur Sukhoi, Rusia beberapa waktu lalu.

    Adapun terkait pengungsi dari Suriah, Galuzin mengakui sejumlah kecil pengungsi pergi ke Rusia. Tetapi tujuan akhir mereka bukanlah Rusia. Para pengungsi tersebut menggunakan Rusia sebagai transit untuk pergi ke Norwegia. “Saat ini kami bekerja sama dengan pemerintah Norwegia untuk mengatasi masalah tersebut sesuai dengan hak asasi manusia dan martabat mereka,” kata Dubes Galuzin.

    NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.