Demi Bekerja, Wanita Ini Batalkan Pernikahannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lina Almaeena pemilik dari Jiddah United sports club berdiri di toko perlengkapan olahraga di Jiddah, Arab Saudi, 12 Mei 2014. AP/Hasan Jamali

    Lina Almaeena pemilik dari Jiddah United sports club berdiri di toko perlengkapan olahraga di Jiddah, Arab Saudi, 12 Mei 2014. AP/Hasan Jamali

    TEMPO.CO, Jeddah - Sebuah suasana pernikahan di Jeddah, Arab Saudi, berubah menjadi pilu setelah calon pengantin perempuan mendesak agar diizinkan bekerja setelah berumah tangga. Namun keluarga calon pengantin pria enggan menerima syarat itu.

    Pasangan itu hampir dinikahkan di kantor urusan agama Jeddah ketika wanita itu mengungkapkan hasratnya untuk terus bekerja.

    Seperti dilansir Arab News pada Rabu, 9 September 2015, keinginan calon pengantin perempuan tersebut memicu pertengkaran hebat di antara kedua orang tua calon pengantin.

    "Saat keadaan mulai tidak terkendali, pegawai kantor meminta kedua pihak menyelesaikan masalah itu dengan tenang. Namun keluarga calon pengantin pria meninggalkan kantor itu tanpa ingin berkonsultasi lebih lanjut," kata sumber.

    Terkejut dengan tindakan itu, ibu calon pengantin perempuan pingsan. Acara yang seharusnya berjalan dengan gembira berakhir dengan tangisan.

    Calon pengantin perempuan memang bekerja di sebuah perusahaan ketika bertunangan setahun lalu. Tapi keluarga bakal suaminya tidak pernah memberi tahu dia harus berhenti setelah mendirikan rumah tangga.

    "Meskipun sudah bertunangan, pasangan itu tidak pernah bertemu atau berkomunikasi karena mempertahankan tradisi masyarakat di sini," ucap pegawai kantor itu.

    Mengomentari kejadian itu, aktivis masyarakat, Abeer M. menuturkan kebanyakan pria Saudi menghindari menikahi wanita yang terlalu mandiri.

    "Mereka menikah karena menginginkan istri sepenuh waktu," ujar Abeer.

    Saat ini semakin banyak wanita Saudi berpendidikan tinggi dan memiliki karier baik.

    "Ini yang menyebabkan banyak wanita Saudi tidak menikah meskipun sudah berusia matang," katanya.

    ARAB NEWS | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.