Bertemu Putin, Raja Salman Beli Rudal S-400 Seharga Rp 40 Triliun

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Rusia Vladimir Putin berbincang dengan Raja Arab Saudi Salman di Kremlin di Moskow, Rusia, 5 Oktober 2017. Empat hari di Rusia, Raja Salman akan membicarakan tentang minyak dan konflik Suriah. REUTERS

    Presiden Rusia Vladimir Putin berbincang dengan Raja Arab Saudi Salman di Kremlin di Moskow, Rusia, 5 Oktober 2017. Empat hari di Rusia, Raja Salman akan membicarakan tentang minyak dan konflik Suriah. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Rusia dan Arab Saudi telah menyetujui sejumlah kesepakatan bernilai miliaran dolar dalam kunjungan kenegaraan pertama dan bersejarah Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Moskow. Seperti dilansir Independent pada 5 Oktober 2017, Raja Salman dan Putin  akan menandatangani kesepakatan pembelian senjata senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 40,4 triliun pada pertemuan WTO akhir Oktober mendatang.

    Baca: Liburan ke Maroko, Raja Salman Habiskan Duit Rp 1,3 Triliun

    Perjanjian awal ini adalah tentang Saudi membeli sistem pertahanan udara, yakni rudal S-400 Rusia. Kesepakatan tersebut diumumkan pada Kamis, 5 Oktober 2017, saat Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi tuan rumah bagi Raja Arab Saudi pertama yang mengunjungi Rusia untuk melakukan pembicaraan di Kremlin.

    Selain membeli rudal antipesawat S-400, Arab Saudi bersiap membeli sistem peluru kendali antitank, roket, dan beberapa peluncur roket.

    Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan pembicaraan antara Putin dan Raja Salman dipusatkan pada kesamaan di antara kedua negara.

    "Kedua pemimpin berdiskusi terkait dengan hal-hal yang ramah serta substansial berdasarkan keinginan Moskow dan Riyadh untuk secara konsisten mengembangkan kemitraan yang saling menguntungkan di semua bidang," kata Lavrov dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir.

    Baca: Arab Saudi Siapkan Rp 266 Triliun Untuk Infrastruktur di Amerika

    Lavrov berujar, dua pemimpin tersebut telah bersepakat mengenai pentingnya memerangi teror serta menemukan solusi damai terhadap konflik di Timur Tengah dan atas prinsip integritas teritorial.

    Rusia dan Arab Saudi berada di sisi yang berlawanan dalam konflik di Timur Tengah, termasuk Suriah. Moskow mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad, sementara Riyadh mendukung oposisi.

    Selain itu, keduanya bertentangan dalam konflik Yaman. Sebuah koalisi pimpinan Saudi telah mengebom pemberontak Houthi di Yaman sejak 2015 dan mendapat kecaman dari Moskow.

    Kedua negara juga mengisyaratkan bahwa kemungkinan akan ada kerja sama lebih lanjut untuk mengangkat harga minyak, sumber kehidupan ekonomi Rusia dan Arab Saudi. Para menteri Rusia juga berharap delegasi Saudi yang dipimpin Raja Salam akan membawa investasi ke Rusia.

    AL JAZEERA | INDEPENDENT | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perolehan Kursi DPR Pemilu 2019, Golkar dan Gerinda di Bawah PDIP

    Meski rekapitulasi perolehan suara Golkar di Pileg DPR 2019 di urutan ketiga setelah PDIP dan Gerindra, namun perolehan kursi Golkar di atas Gerindra.