Moyang Capres Suriname Asli Banyumas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pendidikan Suriname, Raymond Sapoen. (gfcnieuws.com)

    Menteri Pendidikan Suriname, Raymond Sapoen. (gfcnieuws.com)

    TEMPO.COJakarta - Calon Presiden Suriname, Raymond Sapoen, mengakui sebagai keturunan orang Jawa dan berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Raymond merupakan generasi ketiga dari Ki Sapoen, yang diangkut VOC Belanda ke Suriname sebagai kuli kontrak pada 1928.

    "Saya adalah generasi ketiga. Saya punya catatan tentang leluhur saya, namun yang pasti adalah mereka berasal dari Banyumas," ujar Raymond seperti dikutip dari BBC, 6 Februari 2015. 

    Calon presiden Suriname yang diusung Partai Pertjaja Luhur itu mengaku tidak tahu persis masih mempunyai saudara di Indonesia atau tidak. Sebab, Raymond tidak mempunyai kontak kerabat Sapoen, yang berasal dari Desa Kanding, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.

    Meski menjadi turunan ketiga yang menetap di Suriname, Raymond mengaku sehari-hari tetap menggunakan bahasa Jawa. Raymond pun berbincang dengan orang tua dan tiga anaknya menggunakan bahasa Jawa.

    Raymond akan mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilu yang digelar pada 25 Mei 2015. Sebelumnya, Raymond menjabat Menteri Perdagangan dan Industri periode 2012-2014. Raymond juga pernah menjabat Menteri Pendidikan pada 2010 hingga 2012.

    Arie Grobbee, warga keturunan Belanda yang kini bermukim di Desa Karangbanjar, Purbalingga, menelusuri leluhur Raymond di Banyumas. Sudah setahun ini, Arie menelusuri keluarga orang-orang Jawa yang dulu menjadi kuli kontrak di Suriname. 

    Berdasarkan data arsip nasional Belanda, Sapoen berangkat ke Suriname pada 1928. Sapoen menumpang kapal Merauke II yang berangkat dari Jakarta menuju Paramaribo, Suriname.

    BBC | LINDA TRIANITA |

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.