Siswa di Sekolah Ini Dipisahkan Berdasarkan Ras  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pemuja menaburkan air suci saat melakukan doa bersama untuk mengenang satu tahun wafatnya mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela di Freedom Park di Pretoria, Afrika Selatan, 5 Desember, 2014. (AP Photo)

    Seorang pemuja menaburkan air suci saat melakukan doa bersama untuk mengenang satu tahun wafatnya mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela di Freedom Park di Pretoria, Afrika Selatan, 5 Desember, 2014. (AP Photo)

    TEMPO.COJohannesburg - Sekitar 30 orang tua menandatangani petisi terkait dengan pemisahan rasial di Yayasan Sekolah Curro, sekolah swasta yang populer di Afrika Selatan, pekan ini.

    Petisi itu menyatakan sekolah yang terletak di Roodeplaat sering kali memisahkan ruang kelas anak-anak berdasarkan ras mereka.

    Yayasan Sekolah Curro, termasuk dalam daftar 40 sekolah yang dikelola oleh Curro Holdings, memang menjadi sekolah populer di kalangan orang tua, utamanya sejak perusahaan tersebut terdaftar dalam bursa saham Johannesburg pada 2011. (Baca: Nelson Mandela, dari Tahanan Menjadi Presiden)

    Namun, beberapa tahun terakhir, terdapat laporan bahwa pihak sekolah menerapkan peraturan rasis terhadap siswa keturunan kulit hitam. Hal ini sontak menimbulkan kemarahan publik, apalagi setelah politik warna kulit atau apartheid di Afrika Selatan berakhir 20 tahun lalu. Namun tuduhan segregasi rasial ini dibantah mentah-mentah oleh pihak sekolah.

    "Permasalahan ini tidak semudah merujuk pada kebijakan segregasi. Saya mengingatkan orang-orang dan para pendukung, kami tidak menoleransi segregasi rasial, tidak sama sekali," ujar Direktur Curro Chris van der Merwe dalam wawancara dengan Talk Radio 702, seperti dikutip Reuters, Jumat, 30 Januari 2015. (Baca: Cara Mandela Dewasakan Militer Anti-Apharteid)

    Namun Merwe mengkonfirmasi bahwa memang terkadang siswa berkulit putih digabungkan dalam satu kelompok untuk membantu mereka berteman dengan budaya yang sama. Dia menjelaskan, sebanyak  12 siswa berkulit putih dibagi secara merata di tiap ruang kelas.

    Pemisahan rasial, ujar dia, mungkin menjadi konsekuensi dari pilihan bahasa, karena warga Afrika berkulit putih cenderung memilih menggunakan bahasa Afrika, sementara orang tua siswa berkulit hitam jarang memilih menggunakan bahasa tersebut.

    Rasisme dalam dunia pendidikan tetap menjadi isu emosional di Afrika Selatan. Di bawah pemerintahan minoritas kulit putih yang berakhir pada 1994, warga kulit hitam diasingkan ke sekolah-sekolah pemerintah yang tidak bergengsi dan dirancang untuk mempersiapkan siswa agar terampil menjadi pekerja kasar.

    Menurut catatan World Economic Forum, pendidikan publik Afrika Selatan berada pada peringkat terburuk di antara yang terburuk di dunia. Jadi, banyak orang tua siswa yang beralih ke sekolah swasta, seperti Yayasan Sekolah Curro. Menanggapi masalah ini, Departemen Pendidikan Afrika Selatan berkunjung ke sekolah tersebut pada Jumat, 30 Januari 2015.

    CNN | NEWS 24 | WINONA AMANDA



    Baca juga:
    Gigi Ompong Jadi Tren Remaja di Afrika Selatan
    Anak Afrika Lebih Bahagia daripada Anak Inggris
    Keluarga Mandela Dukung Palestina


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.