PM India: Serangan Teroris di Wagah Pengecut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Narendra Modi. REUTERS/Yuya Shino

    Narendra Modi. REUTERS/Yuya Shino

    TEMPO.CO, Wagah - Perdana Menteri India Narendra Modi mengutuk serangan bom bunuh diri yang terjadi di Wagah, perbatasan dengan Pakistan, Ahad lalu. Modi menyebut serangan itu sangat mengejutkan serta sebagai tindakan pengecut dari para teroris.

    "Saya mengutuk serangan bom di Wagah. Ini adalah tindakan pengecut. Saya ikut berduka kepada keluarga yang menjadi korban," kata Modi lewat akun Twitternya, seperti dilansir dari India Express. (Baca: Bom Bunuh Diri di Perbatasan India, 50 Orang Tewas)

    Setidaknya 61 orang, termasuk sebelas perempuan, anak-anak, dan tiga personel keamanan perbatasan tewas dalam serangan ini. Lebih dari 200 orang mengalami luka.

    Sekitar seratusan warga berkumpul di Wagah untuk menyaksikan upacara penurunan bendera dan penampilan anggota militer untuk penutupan formal pos perbatasan. Upacara itu sudah dilakukan kedua negara selama bertahun-tahun. Setelah kejadian itu, polisi memperketat keamanan di seitar pos Wagah.

    Anak buah organisasi Al Qaeda, Jandullan, mengklaim serangan di Wagah. Namun, Taliban juga mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. "Serangan ini merupakan reaksi kami terhadap operasi militer Zarb-i-Azb di wilayah Waziristan, Pakistan," kata juru bicara Taliban, Ahmed Marwat.

    Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menyampaikan tekad pemerintah untuk memerangi aksi terorisme di negara itu. Dalam sebuah pernyataan, Asif menyatakan bahwa teroris tidak akan bisa menghancurkan Pakistan. "Kami akan memerangi teroris," kata Asif. 

    RINDU P. HESTYA | INDIA EXPRESS

    Berita Lain:
    PSK Indonesia Dibunuh di Apartemen Mewah Hong Kong
    ISIS Buka Lowongan Kerja Manajer Minyak
    Pembunuh PSK Indonesia Diadili Hari Ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.