FAO Luncurkan Portal untuk Kurangi Sampah Makanan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria tiba di kamp penampungan yang didirikan pemerintah di Mogadishu, Somalia, untuk para penduduk yang mengungsi dari daerah yang mengalami bencana kelaparan (20/7). Reuters

    Seorang pria tiba di kamp penampungan yang didirikan pemerintah di Mogadishu, Somalia, untuk para penduduk yang mengungsi dari daerah yang mengalami bencana kelaparan (20/7). Reuters

    TEMPO.CORoma - Badan Pangan dan Pertanian Dunia (UN Food and Agricultural Organization/FAO) menyatakan sebanyak 1,3 miliar ton makanan, cukup untuk memberi makan dua miliar orang, terbuang sia-sia setiap tahunnya.  Hal ini mendorong FAO membuat platform interaktif baru guna menguranginya sekaligus memberi makan bagi 800 juta orang yang kelaparan tiap tahunnya.

    "Kita perlu menutup celah antara orang yang menyadari masalah ini dan apa yang mereka lakukan saat berada di toko atau di dapur,” kata Dana Gunders, ilmuwan Natural Resources Defense Council, lembaga advokasi lingkungan Amerika Serikat dalam peluncuran situs The Global Community of Practice of Food Loss Reduction pekan lalu.

    "Kesadaran adalah langkah pertama, informasi lebih spefisik (yang tersedia dalam portal tersebut) lebih membantu dalam menguranginya,”  kata Gunders seperti dilansir Al Jazeera dan Reuters, Jumat, 31 Oktober 2014

    Belum jelas bagaimana platform baru itu akan bekerja atau memberi solusi, tetapi pengamat menyatakan hal tersebut sebagai langkah positif yang tepat.

    Lebih dari 40 persen umbi-umbian, buah-buhan dan sayuran, 20 persen minyak biji-bijian dan 35 persen ikan tidak pernah dimakan orang-orang yang kelaparan, kata FAO. (Baca: Kelaparan, Warga Sumba Timur Makan Ubi Beracun)

    Di negara maju, sampah makanan biasanya berasal dari perumahan atau restoran, di saat orang membuang produk-produk yang dianggap sudah membusuk, atau produk yang dianggap cacat di toko hanya karena sedikit penyok atau rusak.

    Sementara di negara berkembang, makanan tersia-sia saat penyimpanan atau pengiriman akibat infrastruktur pendingin dan pengawet makanan tidak memadai.

    “Para pendukung mengharapkan informasi dari platform baru ini akan membantu para petani berbagi pengalaman untuk mengurangi makanan terbuang,” kata Anthony Bennet, dari FAO.

    Situs tersebut berfungsi sebagai sarana berbagi pengalaman bagaimana menghemat atau mengurangi terbuangnya makanan dengan sia-sia.

    REUTERS | AL JAZEERA | NATALIA SANTI

    Baca juga:
    Kurator Seni: Logo Baru Yogyakarta Mirip Iklan Obat Kuat
    Penghina Presiden Ini Masih Ditahan Polisi
    JK Minta Perantau Sulsel Jaga Kebhinekaan
    Raden Nuh Ditangkap, Tetangga Kos Tak Tahu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.