Di New York, SBY Sebut REDD+ Sukses  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberi salam sebelum keberangkatannya menuju Portugal, Jepang dan Amerika Serikat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 18 September 2014. TEMPO/Subekti.

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberi salam sebelum keberangkatannya menuju Portugal, Jepang dan Amerika Serikat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 18 September 2014. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, New York - Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono tampil dalam forum Indonesian's REDD+ Event di New York, Amerika Serikat, pada Rabu, 24 September 2014. Dalam kesempatan itu, SBY berbagi pengalaman bagaimana Indonesia dan negara lainnya sukses mengaplikasikan mekanisme Reducing Emissions from Deforestation and Degradation in Developing Countries Plus (REDD+) sebagai langkah perlawanan terhadap perubahan iklim.

    "Dengan REDD+, negara-negara dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Negara juga melakukan konservasi hutan, pengelolaan hutan secara benar, dan peningkatan cadangan karbon hutan," kata SBY dalam rilis pers yang diterima Tempo, Kamis, 25 September 2014.

    REDD+ merupakan mekanisme internasional yang telah disepakati oleh 190 negara dalam United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada 2007. Di Indonesia, ujar SBY, percobaan REDD+ sukses meningkatkan tata kelola hutan.

    Di Indonesia, tutur SBY, hutan bisa memberikan pengaruh baik dan buruk. Sebab, lahan gambut tropis di Indonesa menyimpan sejumlah besar karbon di dunia. Namun, saat yang sama, hutan tropis Indonesia juga melindungi negara dari perubahan iklim.

    "Hal pertama yang harus diketahui adalah keberhasilan REDD+ memerlukan perubahan pola pikir tentang pemanfaatan hutan dan tata kelola. Hal ini membutuhkan visi dan pendekatan baru yang dapat memberikan penekanan pada kontribusi hutan terhadap kelestarian lingkungan," kata SBY.

    Dalam pidato itu, SBY mengaku telah membuat Badan Manejemen REDD+, yang ikut membantu kesuksesan mekanisme ini pada Agustus lalu. Badan ini membantu memfasilitasi, mengintegrasi dan mengkoordinasi upaya mitigasi gas rumah kaca.

    RINDU P. HESTYA

    Berita Lain:
    Sidang MU PBB ke-69 Dibuka 
    Tren Pengaturan Internet di Asia Mengkhawatirkan 
    Tim Palang Merah Diserang Keluarga Pasien Ebola  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.