Siaran Piala Dunia di Korea Utara Telat 35 Jam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan penari tampil dalam upacara pembuka piala dunia di Brazil 13 Juni 2014. AP/ Shuji Kajiyama.

    Ratusan penari tampil dalam upacara pembuka piala dunia di Brazil 13 Juni 2014. AP/ Shuji Kajiyama.

    TEMPO.CO, Pyongyang - Korea Utara memang anti pada apapun yang berkaitan dengan budaya Barat. Tapi, sepertinya itu tak berlaku untuk menyiarkan kemeriahan Piala Dunia 2014 di Brasil yang digelar sejak sepekan yang lalu. Setiap pertandingan disiarkan oleh Korean Central Televison (KCTV). (Baca: Acara Pembukaan Piala Dunia Brasil 2014 Meriah)

    Namun, ternyata KCTV melakukan "kecurangan" kepada masyarakat Korea Utara. Dilaporkan oleh Yonhap, Rabu, 18 Juni 2014, siaran KCTV sering terlambat dari jadwal yang sebenarnya.

    Acara pembukaan dan pertandingan perdana Brasil vs Kroasia, misalnya, KCTV terlambat 24 jam hingga 35 jam. Selain itu, sepertinya KCTV "meminjam" siaran dari TV Korea Selatan. Sebab, sedikit terlihat logo TV Korea Selatan yang kabur dan lambang KCTV ditempelkan di atasnya. (Baca: Pengungsi Anak-anak Sambut Piala Dunia 2014)

    Selain tayangan yang ngaret dan "meminjam" siaran, audio pertandingan di KCTV juga buruk. Beberapa perbincangan selama siaran juga disensor dan diedit. Suara tendangan, kerumunan, dan teriakan gol juga tidak sinkron dengan tayangan.

    Sepak bola adalah olahraga yang paling populer di Korea Utara, sama seperti basket. Korea Utara pernah lolos ke Piala Dunia 2010 setelah 44 tahun absen dari kompetisi sepak bola internasional ini. Bahkan, saking cintanya, Presiden Kim Jong-un juga membuat sekolah sepak bola "internasional" dan merenovasi stadion di seluruh negeri.

    RINDU P. HESTYA | YONHAP | THE HOLLYWOOD REPORTER

    Berita Lain:
    Berjemur Telanjang, Wanita Ini Sebabkan Kemacetan
    Pasutri Temukan Ular Piton di Sofa Rumahnya
    Bayi Merokok di Cina Undang Kemarahan Global


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.