AS: Belanja Militer Cina Lebih dari US$ 145 Miliar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Helicopter militer Cina Z-10WZ melakukan akrobatik dengan membentuk formasi pada acara Cina Helikopter Ekspo di Tianjin (5/9). AP/Andy Wong

    Helicopter militer Cina Z-10WZ melakukan akrobatik dengan membentuk formasi pada acara Cina Helikopter Ekspo di Tianjin (5/9). AP/Andy Wong

    TEMPO.CO, Washington - Belanja militer Cina lebih dari US$ 145 miiar pada tahun lalu karena modernisasi terhadap pesawat tanpa awak (drone), kapal perang, jet, rudal dan senjata cyber, kata Departemen Pertahanan AS, Kamis, 5 Juni 2014. Taksiran Pentagon ini lebih tinggi dari penghitungan resmi yang dikeluarkan Beijing.

    Perkiraan Pentagon, menggunakan harga dan nilai tukar tahun 2013, 21 persen di atas nilai yang resmi diumumkan oleh Cina, yang sebesar US$ 119,5 miliar.

    Soal anggaran dan perkembangan terbaru dari pertahanan Cina ini disampaikan Pentagon dalam laporan tahunannya kepada Kongres AS. Laporan itu juga mengakui bahwa memperkirakan pengeluaran Cina tak mudah arena "kurangnya transparansi".

    Laporan itu muncul hanya beberapa hari setelah Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel menuduh Beijing mendestabilisasi kawasan dalam mengejar klaim teritorial.

    Cina mengklaim hampir seluruh Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur yang diketahui kaya minyak dan gas, serta menolak klaim serupa atas daerah itu dari tetangganya, yaitu Taiwan, Brunei Darussalam, Vietnam, Filipina, dan Malaysia. Jepang juga memiliki sengketa wilayah dengan Cina atas pulau-pulau di Laut Cina Timur.

    Dalam laporan 96 halaman itu dikatakan bahwa Cina mempersiapkan kontingen potensial di Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur, dengan menyebut latihan Oktober 2013 bernama "Maneuver 5" di Laut Filipina sebagai salah satu buktinya. Kata Pentagon, itu adalah latihan terbuka terbesar Angkatan Laut Cina sampai saat ini.

    Amerika Serikat bulan lalu mendakwa lima perwira militer Cina dan menuduh mereka meretas perusahaan dan mencuri rahasia dagang perusahaan AS. Laporan terbaru ini juga memperbarui peringatan terkait dengan soal tersebut.

    "Cina menggunakan... kemampuannya untuk mendukung pengumpulan intelijen terhadap diplomatik, ekonomi, dan pertahanan di sektor basis industri AS yang mendukung program pertahanan nasional AS," kata laporan itu.

    Pentagon juga mengutip soal kemajuan teknologi drone Cina dan menunjuk laporan Defense Science Board yang memperingatkan bahwa adanya dorongan Beijing untuk "menggabungkan sumber daya yang tak terbatas dengan kesadaran akan teknologi" yang "memungkinkan Cina sejajar atau bahkan melebihi pengeluaran AS dalam sistem pesawat tak berawak di masa depan."

    Laporan itu mencatat bahwa pada September 2013, "kemungkinan" drone Cina tercatat untuk pertama kalinya melakukan pengintaian di atas Laut Cina Timur. Cina juga meluncurkan rincian empat drone yang sedang dikembangkannya pada tahun 2013, termasuk Lijian, drone siluman pertama negara itu.

    Kementerian Pertahanan China, dalam sebuah pernyataan di situsnya "menentang" laporan Pentagon itu. "Tahun demi tahun AS mengeluarkan apa yang disebut laporan 'Perkembangan Militer dan Keamanan di Cina, membuat kritik tak masuk akal atas pertahanan dan pembangunan normal militer Cina dan melebih-lebihkan 'ancaman militer Cina', yang itu benar-benar salah," katanya.

    Cina sedang mengevaluasi laporan itu dan akan memberikan reaksi setelah melihat situasinya.

    Reuters | Abdul Manan

    Berita Lainnya
    Pria Australia Klaim Tiduri Ratusan Gadis di Bali
    Dinikahi Putri Jepang, Pria Biasa Ini Pendeta
    Tolak Diperkosa, Wanita India Ditembak Mati
    Putri Jepang Nikahi Pria Kebanyakan pada Oktober
    5 Hal Tentang Letizia, Ratu Spanyol Masa Depan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.