Jepang Tak Akui Referendum Crimea  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Pro-Rusia merayakan hasil referendum di Lapangan Lenin, Simferopol, Ukraina (16/3). 95.5% warga Crimea memilih bergabung ke Rusia dan lepas dari Ukraina. (AP Photo/Vadim Ghirda)

    Warga Pro-Rusia merayakan hasil referendum di Lapangan Lenin, Simferopol, Ukraina (16/3). 95.5% warga Crimea memilih bergabung ke Rusia dan lepas dari Ukraina. (AP Photo/Vadim Ghirda)

    TEMPO.CO, Tokyo - Jepang menyatakan tidak mengakui referendum yang digelar di Crimea dan meminta Rusia untuk tidak menganeksasi daerah otonomi khusus Ukraina. Kepala sekretaris kabinet pemerintah Jepang, Yoshihide Suga, mengatakan Tokyo yang tergabung dalam negara anggota G7 akan menjatuhkan sanksi kepada Rusia.

    Crimea menggelar referendum pada Minggu, 16 Maret 2014. Pemerintah Crimea mengklaim 96 persen pemilih setuju Crimea bergabung dengan Rusia. Selain Jepang, Amerika Serikat menegaskan tidak mengakui referendum tersebut. (Baca: Putin: Referendum Crimea Sesuai Piagam PBB )

    Di tengah pro-kontra dunia internasional tentang Crimea, sekitar tiga ribu orang turun ke jalan-jalan di Kota Crimea pada Minggu, 16 Maret 2014. Mereka memegang bendera Rusia dan pita bertuliskan St. George, simbol Rusia. Mereka mengaku pendukung referendum Rusia. Mereka juga meminta referendum serupa digelar di Kota Donetsk.

    Para demonstran yang berjumlah sekitar dua ribu orang memenuhi kantor jaksa regional Donetsk. Mereka meneriakkan slogan tuntutan pembebasan gubernur yang mencetuskan kemerdekaan, Pavel Gubarev, dan dukungan kepada Rusia. (Baca : Rusia Veto Resolusi DK PBB tentang Crimea)



    REUTERS | VOICE OF RUSSIA | INTERFAX | MARIA RITA HASUGIAN
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.