Kunjungan Obama Disambut Unjuk Rasa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerika Serikat Barack Obama. AP/Susan Walsh

    Presiden Amerika Serikat Barack Obama. AP/Susan Walsh

    TEMPO.CO, Ramallah —Meski Presiden Amerika Serikat Barack Obama dijadwalkan akan mengunjungi Ramallah pada Kamis, 21 Maret 2013 besok, ratusan warga Palestina sudah turun ke jalan memprotes kunjungannya, Selasa, 19 Maret 2013 waktu setempat. 

    Selain menolak kunjungan Obama di Tepi Barat, unjuk rasa yang dimotori oleh kelompok Martabat untuk Palestina ini juga menolak perundingan damai hingga Israel menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi.

    “Sebagai warga Palestina, kami melihat Amerika Serikat selalu mendukung Israel dalam bentuk apa pun,” kata Abdallah, seorang pengunjuk rasa yang turut serta dalam aksi di Lapangan Al-Manara, Ramallah, Palestina.

    Abdallah merujuk pada bantuan militer tahunan sebesar US$ 3,1 miliar dari Negeri Abang Sam untuk Israel. Jumlah ini merupakan bantuan terbesar di dunia, baik untuk militer maupun ekonomi. “Obama dan Amerika Serikat mendukung penjajahan dengan uang dan senjata,” ujarnya geram.

    Para pengunjuk rasa juga menyatakan sangat kecewa atas penolakan Amerika Serikat mendukung keinginan Palestina untuk masuk ke PBB. Beberapa pengunjuk rasa tampak membawa poster bertuliskan “Hentikan Bantuan Militer AS ke Israel” dan “Anjing Pudel AIPAC.” Aipac merupakan kelompok lobi Israel yang sangat berpengaruh dalam politik luar negeri Amerika Serikat.

    DAILY BEAST | SITA PLANASARI AQUADINI

    Berita Terpopuler:
    Ini Orang-orang Kepercayaan Djoko Susilo 

    Kapolri Perintahkan Korlantas Kurangi Tilang

    Rahmad Darmawan Umumkan 28 Pemain Timnas 

    Inilah Pertemuan yang Menjerat Politikus Golkar

    Berkas `Kebun Binatang` Djoko Susilo Hilang 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.