Soal Jenis Kelamin Bayi, Kate-William Beda Harapan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kate Middleton tersenyum lebar setelah mengalami insiden sepatunya tersangkut pada penutup saluran air  saat memperingati hari St. Patrick bersama prajurit dari Batalyon 1 Pengawal Irlandia di Barak Mons di Aldershot, Hampshire, Inggris (17/3). REUTERS/Toby Melville

    Kate Middleton tersenyum lebar setelah mengalami insiden sepatunya tersangkut pada penutup saluran air saat memperingati hari St. Patrick bersama prajurit dari Batalyon 1 Pengawal Irlandia di Barak Mons di Aldershot, Hampshire, Inggris (17/3). REUTERS/Toby Melville

    TEMPO.CO, London - "Saya berharap mendapat anak laki-laki," kata Duchess of Cambridge alias Kate Middleton. Tapi, menurut wanita yang tengah hamil lima bulan ini, Pangeran William lebih memilih untuk memiliki anak perempuan.

    Ia menyatakan hal itu saat berbicara kepada seorang prajurit selama kunjungan pasangan itu di Barak Mons di Aldershot, Hampshire, untuk peringatan Hari St Patrick. Setelah parade, pasangan ini mengobrol santai dengan tentara dari Batalion 1 Pengawal Irlandia.

    Seorang pengawal, Lee Wheeler, 29 tahun, mengatakan, ia bertanya kepada Kate tentang sang jabang bayi. "Anda sudah tahu, apakah laki-laki atau perempuan?" tanyanya. Kate menjawab sambil tersenyum, "Belum."

    "Dia berkata 'Saya ingin memiliki anak laki-laki dan William ingin seorang gadis'," ujar Wheeler meniru perkataan Kate.

    Seorang prajurit menyatakan, dia berdoa untuk kesehatan dan keselamatan Kate dan bayinya. Yang lain meminta Kate menjaga nilai tradisional dengan tidak segera mencari tahu jenis kelamin jabang bayi.

    Bulan lalu, spekulasi tentang jenis kelamin bayi menyeruak. Secara tak sengaja, Kate kepeleset menyebut bayinya perempuan. Ia segera meralatnya dengan menyatakan tak tahu jenis kelamin bayi yang dikandungnya.

    MAIL ONLINE | TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.