Siapa Lelaki Muda Otak Media Sosial Militer Israel?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sacha Dratwa. upjf.org

    Sacha Dratwa. upjf.org

    TEMPO.CO, Yerusalem - Sacha Dratwa tampak menikmati hidup yang normal. Bermain ski, berenang, minum vodka, hingga berkumpul bareng teman-teman. Aktivitas itu bisa terlihat jelas di laman Facebook pribadinya. Tapi, pria 26 tahun ini bukan anak muda sembarangan. Dia adalah otak di balik mesin propaganda peperangan Israel di dunia maya.

    Situs Gizmodo menulis bahwa Dratwa datang ke Israel dari Belgia. Meski belum mencapai usia 30, Dratwa adalah komandan tim Facebook dan YouTube, tangan tak terlihat dari militer Israel. "Kami percaya, orang-orang akan memahami bahasa Facebook dan bahasa Twitter," ujar dia ketika diwawancarai majalah Tablet.

    Perang yang dipimpin Dratwa memang tak berdarah-darah. Tapi, pengaruhnya sama penting dengan yang terjadi selama delapan hari terakhir. Sebab, ia akan menggiring opini publik melalui posting-an di Twitter, Flickr, Facebook, dan YouTube.

    Tablet menulis bahwa Dratwa sudah terlibat dalam sebuah operasi kecil di dunia maya sejak dua tahun. Ia pun ikut mendesain sebuah permainan ala jejaring sosial foursquare di blog resmi militer Israel (IDF). Blog dan situs resmi IDF selalu mengunggah kabar terbaru dari kerja tentara mereka, mulai dari serangan udara, hingga peluncuran roket.

    "Pemerintah bertugas untuk berbicara tentang keinginan kami bangsa Israel, lalu kami di sini akan mengubahnya menjadi bahasa media sosial," ujar Deputi Direktur Jenderal Kementerian Diaspora dan Informasi Publik, Daniel Seaman. "Aku rasa ini adalah sulap," ujar pria yang berbicara dalam konferensi pers tentang serangan delapan hari terakhir ini.

    Dratwa mengatakan, "Kami ingin menjelaskan kepada dunia, apa yang terjadi di Israel. Sederhana saja.”

    Dratwa menguraikan dengan bermain di media sosial, Israel diuntungkan dalam dua hal. Pertama, pembaca bisa melihat secara real-time perkembangan di Tel-Aviv, Gaza, dan kawasan di sekitarnya. Kedua, memotong informasi dari media yang mendukung aktivis Israel yang pro terhadap Palestina.

    "Yang kami lakukan adalah mencoba secepat mungkin mendapatkan informasi sebelum media-media lawas," ujar dia. "Kami ingin pembaca mendapatkan informasi pertama, karena kamilah yang berada di medan perang. Media-media lawas itu tak berada di sana."

    DIANING SARI

    Berita lain:
    Deddy Mizwar Kaget Ada Dana Century di Rekeningnya

    17 Kicauan Wapres Boediono Soal Century

    Betawi-kan Jakarta, Ini Empat Ide Jokowi

    Paris Hilton Buka Toko di Mekah

    Dahlan Iskan Larang Pertamina Gantikan BP Migas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.