Isi SMS Dianggap Rayuan, TKI Dibui 2 Bulan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Ken Arini Y

    TEMPO/Ken Arini Y

    TEMPO.CO , Jakarta:Mahkamah Majistret Sungai Siput, negara bagian Perak, Malaysia, menghukum Muhammad Saleh, 42 tahun, dua bulan penjara. Tenaga Kerja Indonesia asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Baratm itu didakwa mengirim sms berisi rayuan kepada soerang perempuan yang sudah bersuami.


    Dalam sidang, Senin 22 Oktober 2012, hakim tunggal Ahmad Shamil Asad sempat mendengarkan isi salah satu pesan singkat atau SMS yang dikirim pekerja kebun karet tersebut kepada Nur, 48 tahun. “Kakak permata hatiku, yang ku rindu setengah mati. Aku tak bisa bangkit dari tempat tidur, karena dunia tak nampak lagi, hanya bayangan kakak yang kulihat.”

    SMS tersebut hanya salah satu bukti dakwaan. Tak hanya satu, semua pesan singkat itu setelah disalin mencapai 4 halaman.  Rupanya perbuatannya dijerat pasal 509  Kanun Acara Jenayah Malaysia, tentang mengaibkan kehormatan rumah tangga orang lain. Ia pun harus menjalani hukuman dua bulan penjara dipotong masa tahanan. Saleh pun harus menjalani sisa hukuman dua pekan lagi.

    Saleh mengakui kesalahannya. Ia menerima putusan hakim. Namun ia mengatakan pesan singkat dikirimkan beberapa kali kepada Nur karena sang wanita menggodanya terlebih dahulu. “Dia yang pertama kali mengirim sms mengajak saya keluar,” kata Saleh.

    Di akhir persidangan, hakim menasehati Muhamad Saleh, pria isteri dan lima anak di kampung halamannya ini, menghentikan perbuatannya. “Bertaubatlah Saudara. Ingat saudara punya istri dan anak,” kata hakim.

    MASRUR (KUALA LUMPUR)

    Berita Terpopuler
    Malala Yousafzai Sadar dari Koma 

    Menggendong Bayi Sambil Mengayuh Becak

    Jalani Terapi, Wajah Gadis Ini Jadi Berewokan

    Tak Sediakan Bokong Ayam, Istri Diadili 

    Fidel Castro Ternyata Sehat  




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.