Istri Presiden Mesir: Jangan Panggil Ibu Negara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Um Ahmed. onislam.net

    Um Ahmed. onislam.net

    TEMPO.CO , Kairo - Istri presiden baru Mesir, Naglaa Ali Mahmoud, dan pendahulunya, Suzanne Mubarak, memiliki sedikitnya satu kesamaan yakni senantiasa mendampingi suami dan putranya sekaligus pernah dijebloskan dalam penjara Mesir.

    Namun keduanya memiliki perbedaan. Istri bekas Presiden Husni Mubarak memiliki kemauan keras dan mendorong putranya menjadi presiden. Sebaliknya, istri Presiden Mohammed Mursi konservatif dan muslimah yang senantiasa mengenakan pakaian muslimah dengan balutan jilbab rapat, tanpa terlihat modis. Ia juga menolak dipanggil "Ibu Negara" serta menolak pengawalan.

    "Panggil saja saya istri presiden," katanya kepada Associated Press melalui telepon. "Bukankah istri presiden adalah ibu negara," ucap AP. Ia berkeras tetap ingin dipanggil Umi Ahmed, artinya Ibu Ahmed. Ahmed adalah putra pertama pasangan ini. Kalau toh ada sebutan gelar, dia menjelaskan, dirinya tak keberatan dipanggil sebagai "pelayan masyarakat".

    Mursi dan putranya, seperti kebanyakan aktivis gerakan Ikhwanul Muslimin lainnya, pernah mendekam dalam penjara di bawah rezim Mubarak yang berkuasa selama tiga dekade sebelum dijatuhkan rakyatnya tahun lalu. Rezim ini melarang Ikhwan dan menganiaya, memenjarakan, serta menyiksa anggotanya karena melakukan perlawanan politik. Namun semua itu kini telah berlalu setelah Mesir dikendalikan oleh Mursi.

    Perbedaan gaya penampilan dengan dua ibu negara negara menunjukkan sebuah simbol perubahan politik Mesir. Mursi adalah presiden terpilih secara bebas dalam sejarah modern Mesir, sipil pertama, dan berasal dari kalangan Islam. Sedang Mubarak, 84 tahun, sekarang menghadapi tuntutan penjara seumur hidup karena didakwa membunuh ratusan demonstran saat berdemonstrasi menuntut dirinya mundur. Kedua putranya, Alaa dan Gamal, terlibat korupsi.

    Selama dekade kekuasaan Mubarak, jalan-jalan senantiasa diaspal dan ditanami bunga saat ada kunjungan Suzanne--bahkan kadang-kadang dia diarahkan ke sebuah universitas atau taman--yang menghabiskan biaya ribuan dolar.

    Umi Ahmed jelas sangat berbeda dengan dua pendahulunya, bekas ibu negara Jehan Sadat dan Suzanne Mubarak. Keduanya berpendidikan universitas, berpakaian begitu sempurna tanpa celah. Sedangkan perempuan berkacamata berusia 50 tahun ini hanya tamatan diploma sekolah tinggi dan bekerja sebagai penerjemah di Amerika Serikat dari bahasa Arab ke Inggris.

    Gaya bicaranya sederhana. Demikian juga cara berpakaiannya tidak glamor, hanya berbalut jilbab. Namun, dia siap berperang kata di dunia maya atau akun jejaring sosial dengan siapa pun kendati tetap konservatif. Padahal, mayoritas wanita Mesir baik di kota maupun pedesaan adalah perempuan-perempuan modis. Umi Ahmed lebih suka mengenakan abaya (jubah) hitam, sebuah pakaian yang kerap dikenakan perempuan-perempuan pengikut Ikhwanul Muslimin. Dia tidak mengenakan perias wajah, make-up, atau mengecat kukunya sesuai dengan tradisi Islam konservatif.

    Pada penampilannya pertama di depan publik sebagai istri Presiden Mesir, ibu negara ini tetap mengenakan penutup aurat, jilbab. Penampilannya tidak dicemooh oleh banyak orang, tapi  mereka meminta agar ada pilihan lain dari jilbab yang dikenakan seperti yang biasa dipakai oleh seragam aktivis perempuan Ikhwanul Muslimin.

    "Saya tak masalah dengan hijabnya (jilbab). Tapi saya punya masalah lantaran dia mengenakan warna fosfat hijau," kata blogger Mahmoud Salem, seorang liberal sekuler, kepada AP.

    ARAB NEWS | CHOIRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.