Diselidiki, Ancaman Terorisme Terhadap Warga Australia di Indonesia Sebelum Ledakan Bali

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Australia telah merintahkan penyelidikan berkaitan dengan ditemukannya sebuah peringatan keras tentang serangan terorisme terhadap warga Australia di Indonesia, sebelum ledakan Bali. Hal tersebut dikatakan Perdana Menteri Australia, Howard kepada para wartawan, Sabtu (16/11). Sebagaimana diberitakan harian Sydney Morning Herald, seorang diplomat senior negara barat mengemukakan adanya isu tentang kelompok Islam garis keras, Jamaah Islamiyah (JI), yang berencana melakukan pengeboman berkaitan dengan peringatan tahun pertama awal serangan ke Afghanistan. Menurut koran tersebut, Australia menerima peringatan yang secara eksplisit menyebutkan, kelompok terorisme akan menjadikan Indonesia sebagai target untuk menyerang Amerika Serikat dan sekutunya. Pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sendiri, menurut kantor berita AFP telah mengatakan bahwa Ketua Tim Peledakan Bali, Amrozi, terpengaruh oleh Abu Bakar Baasyir. Pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah inilah yang dianggap merupakan pimpinan spiritual JI. Diplomat yang bermasrkas di Washington itu juga dilaporkan telah mengatakan bahwa peringatan keras tersebut secara jelas akan dihubungkan dengan tanggal 7 Oktober. Hari itu merupakan tanggal peringatan atas setahun konflik di Afghanistan. Koran tersebut juga menyatakan beberapa minggu sebelum peristiwa Bali, 12 Oktober lalu, ancaman telah disebarkan ke seluruh kedutaan besar negara-negara barat di wilayah Asia Tenggara. "Kami tahu bahwa hal itu akan terjadi di Indonesia dan melibatkan sejumlah negara," kata diplomat tersebut. "Dan (ancaman) itu sangat spesifik berasal dari Jemaah Islamiyah, " katanya lebih lanjut. Sementara itu, Howard mengatakan dia tidak memperoleh peringatan spesifik tentang pengeboman di Indonesia. "Hal ini sama sekali tidak berdasarkan pada informasi yang menarik perhatianku, tapi secara alamiah saya ingin semua itu diselidiki," katanya. Namun, Howard mengatakan bahwa Australia akan kembali menjadi target bagi teroris. Pasalnya, organisasi seperti al-Qaeda, kata Howard, "Memandang rendah jalan hidup kami. Menurut Howard, hal tersebut merupakan kampanye teroris melawan warga negaranya. "Mereka melawan keterbukaan yang kami miliki dan inilah yang dipandang rendah oleh al-Qaeda, dan juga dipandang rendah oleh teroris. Kami merupakan bagian dari masyarakat yang terbuka dan kami merupakan orang yang terbuka sehingga kami menjadi target mereka." Howard juga mengaku tengah mencari informasi tentang peringatan teroris yang meluas di Amerika Serikat yang dikeluarkan FBI. FBI memperingatkan bahwa Al-Qaeda cenderung suka melakukan serangan spektakuler yang menimbulkan korban besar dan merusak perekonomian Amerika Serikat. Peringatan ini dikeluarkan setelah meningkatnya percakapan yang berhasil dikembangkan diantara jaringan intelijen. Pejabat Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengutip ucapan FBI mengatakan, Sumber kami menduga bahwa al-Qaeda mungkin melakukan serangan yang spektakuler dengan kriteria sebagai berikut; simbol jumlah yang besar, korban masa banyak, menimbulkan kerusakan pada ekonomi Amerika Serikat dan trauma psikologis maksimum." Dahulu, kata Howard, tingkat ancaman di Australia tidak sebesar di Amerika Serikat. Namun, saat ini, telah meningkat lebih tinggi dibandingkan sebelum peristiwa 12 Oktober. Bahkan, kelihatannya akan bertahan dalam beberapa waktu terakhir ini. "Perang melawan teroris terus berjalan. Memang belum ada kemenangan tetapi kami akan terus menjadi bagian dari peperangan itu sampai menang. Pasalnya, kami sama rapuhnya dengan negara-negara barat lainnya, katanya. (AFP/Dewi Retno)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.