Wawancara Tempo dengan PM Prancis Francois Fillon  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Francois Fillon. AP/Toru Takahashi

    Francois Fillon. AP/Toru Takahashi

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Perdana Menteri Prancis Francois Charles Armand Fillon kemarin petang tiba di Jakarta guna menggelar lawatan kenegaraan selama dua hari. Fillon, 57 tahun, akan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara hari ini. "Kunjungan kami merupakan kunjungan balasan Presiden Yudhoyono ke Paris pada Desember 2009," ujar Fillon.

    Fillon selama di Jakarta didampingi Menteri Kebudayaan dan Komunikasi Frederic Mitterrand, Menteri Muda Perdagangan Luar Negeri Pierre Lellouche, dan Menteri Muda Perhubungan Thierry Mariani. Adapun Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Valerie Pecresse berhalangan hadir karena kini menjabat sebagai Menteri Anggaran.

    "Termasuk delegasi penting lainnya, dari kalangan pemimpin perusahaan," tutur Fillon. Ada sekitar 30 CEO sejumlah perusahaan Prancis turut serta dalam kunjungan kali ini. Perdana Menteri yang menjabat sejak 2007 ini mengatakan kunjungan ini dimaksudkan untuk membentuk sebuah kemitraan strategis di antara kedua negara.

    "Prancis ingin menjadi salah satu sahabat terdekat Indonesia," ujar bekas pengacara yang pernah menduduki pelbagai posisi menteri sejak 1993 ini. Ini adalah lawatan Fillon yang kedua setelah 1996. "Saya sudah pernah ke Jakarta, Yogyakarta, dan Medan." Lalu apa katanya soal Indonesia, ASEAN, dan keterlibatan Prancis dalam konflik di Timur Tengah?

    Berikut petikan wawancara Andree Priyanto dan R.R. Ariyani dari TEMPO dengan politikus dari Partai Serikat untuk Gerakan Rakyat (UMP) pimpinan Presiden Nicolas Sarkozy.

    Apa tujuan Anda melawat ke Indonesia?

    Dalam kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Paris pada Desember 2009, Presiden Republik Prancis, Nicolas Sarkozy, menyarankan agar kedua negara membentuk suatu "kemitraan strategis". Di era globalisasi ini, semua negara menghadapi tantangan yang sama baik di bidang strategis, ekonomi, moneter, sosial, maupun lingkungan hidup.

    Kita melihatnya dalam berbagai hal yang berbeda-beda, seperti mengenai krisis keuangan, pemanasan global, dan ditambah lagi perang melawan bajak laut. Kita semua harus bersikap setia kawan. Pengarahan atau keputusan yang diambil di Eropa mempunyai dampak di Asia dan sebaliknya.

    Prancis ingin menjadi salah satu sahabat terdekat Indonesia. Itulah semangat yang terkandung dalam kemitraan strategis. Jadi, tujuan utama saya ke Indonesia adalah bersama-sama dengan pejabat-pejabat tinggi Indonesia mengadopsi kemitraan strategis ini, yang meliputi hubungan politik hingga kebudayaan, dari ekonomi sampai pertahanan.

    Selama kunjungan saya, kita akan menandatangani beberapa perjanjian sektoral yang akan memperkuat kerja-sama kita. Saya tahu (akan) banyak(nya) perubahan yang telah dialami Indonesia dan saya ingin segera menyaksikannya dengan mata kepala saya sendiri!

    Bagaimana Prancis, sebagai salah satu negara adikuasa, memandang Indonesia dan ASEAN?

    Prancis, terutama sebagai anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), selalu perhatian untuk memberikan pernyataan demi perdamaian dan kesetaraan antara bangsa-bangsa. Kami juga mendukung keadilan, hak asasi, kebudayaan, pendidikan, dan pelbagai hal yang memungkinkan semua orang mencapai kebahagiaan.

    Oleh karena itu, buat kami meningkatkan dialog dengan Indonesia adalah yang utama. Tentu saja kemajuan ekonomi negara ini membuat pertukaran perdagangan dengan Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya menjadi semakin penting.

    Prancis dan Indonesia sama-sama mempunyai situasi dan ambisi yang sejajar sebab kita adalah negara pendiri organisasi-organisasi regional, Uni Eropa atau Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), yang di dalamnya kita melibatkan masa depan kita masing-masing. ASEAN adalah zona yang sedang menuju kepada integrasi.

    Membentuk kemitraan strategis dengan Indonesia berarti juga membangun jembatan tambahan antara Uni Eropa dan ASEAN dengan jalinan solidaritas yang sudah kami jalin sejak lama. Prancis memandang Indonesia sebagai negara yang sangat kaya dengan kebudayaan dan sebagai tujuan utama pariwisata. Sedikitnya 150 ribu warga kami ke sini saban tahunnya.

    Pertukaran kita harus berimbang, terutama dalam bidang pariwisata. Tapi saya tahu bahwa lebih dari 25.000 orang Indonesia akan berkunjung ke Prancis dalam tahun 2011. Jumlah ini mengalami kenaikan sangat cepat. Perjanjian dalam bidang kerja-sama pariwisata bahkan akan ditandatangani dalam kesempatan kunjungan saya ini.

    Bagaimana hubungan bilateral kedua negara dan tantangan dihadapi ke depan?

    Saat ini tantangan yang kita hadapi bersama adalah terutama masalah-masalah besar. Kami tahu Presiden Yudhoyono memberikan sumbangan penting pada Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Cannes, awal November mendatang.

    Terutama untuk hal-hal seperti kelanjutan pemulihan ekonomi dunia, masa depan sistem moneter internasional, ketahanan pangan, harga bahan baku, perlindungan sosial, dan juga pemberantasan korupsi--hal yang ditangani oleh kedua negara sebagai Ketua Bersama kelompok kerja ad hoc G20.

    Prancis dan Indonesia juga harus menjadi juru bicara Uni Eropa dan ASEAN. Saya yakin bahwa Eropa, penanam modal pertama di Indonesia dan pasar kedua bagi ekspornya, harus tetap menjadi mitra yang istimewa bagi Indonesia. Prancis mendorong dimulainya perundingan untuk mencapai persetujuan di bidang ekonomi jangka panjang.

    Bisa Anda jelaskan soal neraca perdagangan Indonesia dan Prancis lima tahun ke belakang yang menunjukkan surplus di pihak Prancis? Bagaimana agar surplus tersebut juga bisa dirasakan Indonesia ?

    Perdagangan bilateral telah melampaui 2,4 miliar euro pada 2010. Angka yang menunjukkan kenaikan sebesar 16 % dibandingkan 2009, dan merupakan kenaikan terus-menerus sejak 2004. Menurut statistik Prancis, Indonesia lebih mengekspor ke Prancis daripada Prancis membeli dari Indonesia barang-barang dan jasa.

    Produk-produk ini sering berupa teknologi tinggi, seperti suku cadang yang menjadi bagian konstruksi pesawat-pesawat Airbus yang dibuat di Bandung dan lemari peralatan listrik sebagai kelengkapan kereta api cepat Prancis yang diproduksi di Jakarta. Indonesia juga banyak mengekspor produk-produk tekstil dan bahan-bahan dari kayu ke Prancis.

    Namun, saya heran atas kenyataan bahwa pertukaran perdagangan kita, khususnya ekspor Prancis ke Indonesia, belum juga menyamai tingkatnya sebelum krisis di Asia pada 1997-1998. Bisa dikatakan potensi kemajuan ini penting, dalam konteks di mana persaingan makin lama makin besar sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cepat dan tinggi.

    Itulah sebabnya, saya datang ke Jakarta didampingi oleh Menteri Perdagangan Luar Negeri Pierre Lellouche dan delegasi penting lainnya, dari kalangan pemimpin perusahaan. Tujuannya agar perusahaan-perusahaan Prancis dapat memberikan sumbangan pada pembangunan Indonesia, terutama bidang transportasi atau pembangunan berkelanjutan.

    Penanaman modal Prancis di Indonesia tahun yang lalu US$ 3.3 juta dan untuk kuartal pertama tahun ini mencapai US$2.2 juta. Apakah ini pertanda bahwa penanaman modal Perancis di Indonesia mulai naik?

    Lebih dari seratus perusahaan Prancis sekarang melakukan usaha di Indonesia. Di sini perusahaan-perusahaan itu mempekerjakan hampir 40.000 orang. Mereka kelompok perusahaan terkenal di dunia, seperti Total, yang memproduksi gas alam cair; Carrefour, yang berada di sini sejak 14 tahun; Danone, khususnya dengan merek air mineral Aqua.

    Masih ada lagi. l'Oreal yang mendirikan salah satu unit produksinya yang paling besar di dunia, di luar kota Jakarta; Accor, yang mengelola banyak hotel di seluruh kepulauan Indonesia; Palyja, kantor cabang grup GDF-Suez; dan Astra, yang mengusahakan pembagian air separuh bagian barat Jakarta.

    Perusahaan Prancis lain boleh jadi kurang dikenal, tetapi mereka telah mulai melakukan penanaman modal yang cukup berarti, seperti Lafarge yang baru saja membuka kembali pabrik semen di Aceh yang hancur sewaktu tsunami 2004, peralatan listrik Schneider Electric dan Alstom Power.

    Kemudian, perusahaan perkapalan Louis-Dreyfus; perusahaan nikel Eramet, yang bermaksud menanam modal dalam proyek besar di Pulau Halmahera, di Kepulauan Maluku; dan Saint-Gobain yang baru saja membuka pabrik. Ada pula sektor pembanguan berkelanjutan yang Prancis menjadi mitra lewat AFD (Badan Pembangunan Prancis).

    Saat Indonesia memperbanyak rencana-rencana pembangunan global, regional, atau sektoral, adalah penting bagi perusahaan-perusahaan kami untuk melipatgandakan prakarsa ke arah pelaku-pelaku ekonomi Indonesia, baik pemerintah maupun swasta.

    Apa yang bisa kedua negara lakukan untuk memaksimalkan potensi yang ada?

    Selain hubungan politik dan ekonomi, saya bisa sebutkan bidang pertahanan, di mana ahli-ahli kita harus melakukan lebih banyak pertemuan, misalnya untuk membahas isu-isu seperti keamanan pelayaran laut di Samudera India. Tukar-menukar pengalaman terkait operasi pemeliharaan perdamaian atau penyediaan perlengkapan untuk pertahanan.

    Satu hal lagi yang bisa dirintis adalah kerja-sama kebudayaan dalam arti yang luas. Pengajaran bahasa Prancis diberikan di Indonesia oleh lebih dari seribu pengajar dan menyangkut sekitar 50.000 murid dan mahasiswa. Jaringan lembaga kebudayaan Prancis, dengan empat pusat kebudayaan, di Jakarta, Bandung Yogyakarta dan Surabaya.

    Kami sedang menata kembali dengan menyatukan semuanya dalam satu badan yang bernama Institut Prancis di Indonesia. Kami akan menggalakkan pertukaran dengan pencipta-pencipta Indonesia yang akan ditandatangani selama kunjungan saya ini.

    Kami diberitahu mengenai dua keinginan Indonesia, yakni untuk melipatgandakan jumlah mahasiswa Indonesia dari sekarang sampai 2020 dan memberikan kelas dunia pada beberapa universitas. Inilah lagi satu sektor yang sangat memberikan banyak harapan, yang akan kita tandatangani dalam satu perjanjian bilateral selama kunjungan saya.

    Bagaimana Perancis melihat pergolakan di Timur Tengah?

    Perubahan penting yang sedang berlangsung di dunia Arab saat ini adalah peristiwa yang bersejarah. Di negara-negara ini, orang laki-laki dan perempuan telah memutuskan untuk berjuang guna kebebasan dan demokrasi. Kadang-kadang, sayangnya, perjuangan ini dibayar dengan cucuran darah dan pengorbanan jiwa.

    Keberanian ini harus kita sambut dengan gembira karena hal ini telah menciptakan semangat besar yang menghembus ke seluruh kawasan. Musim Semi Arab ini bagi kita semua merupakan suatu harapan besar sekaligus tantangan yang besar karena kita harus bertindak bersama-sama untuk menjamin keberhasilan perubahan ke arah demokrasi ini.

    Bagaimana dengan Libya?
    Guna menghadapi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah di Tripoli dan ancaman pembunuhan besar-besaran terhadap penduduk sipil di daerah Benghazi, Dewan Keamanan PBB, atas usul Perancis dan Inggris, dan didukung banyak negara, di antaranya anggota-anggota Liga Arab, telah menyetujui penggunaan kekuatan.

    Prancis saat ini tetap bertekad bulat untuk menjalankan mandat perlindungan ini sepenuhnya bersama sekutu-sekutu kami dan negara-negara yang tergabung dalam Kelompok Penghubung. Tak ada dua situasi yang benar-benar sama.

    Suriah?
    Kalau kita melihat kekerasan penindasan yang dilakukan saat ini di Suriah, kami berpendapat bahwa adalah kewajiban tiap negara untuk memikul tanggung-jawabnya, dan dalam hal anggota-anggota Dewan Keamanan PBB, sedikit-dikitnya untuk mengirimankan isyarat kepada Pemerintah Suriah dengan mengutuk perbuatan-perbuatan tersebut.

    Francois Burgat, seorang ahli Timur Tengah asal Prancis kepada kami mengatakan bahwa revolusi berjalan terlalu cepat di dunia, terutama di Timur Tengah. Anda setuju?

    Harus diakui Musim Semi Arab ini datangnya tiba-tiba dan merupakan sesuatu yang mengejutkan bagi kita semua. Menghadapi peristiwa mengagetkan seperti ini hal yang penting adalah perubahan cara berpikir yang lama berakar mengenai Timur Tengah.

    Sudah lama pemerintah-pemerintah yang otoriter dianggap oleh banyak pihak sebagai benteng terhadap ekstremisme dan terorisme di dunia Arab dan di luar kawasan ini. Menghadapi kebangkitan rakyat yang haus akan kebebasan, tak mungkin lagi mereka diminta bersabar dan pasrah.

    Terhadap negara-negara yang sudah sampai di pasca-revolusi, seperti Tunisia dan Mesir, kita harus mendukung perubahan yang sedang berlangsung. Terhadap negara-negara yang memilih jalan reformasi, seperti Maroko, kita harus percaya dan mendukungnya. Tetapi sikap kami tegas terhadap negara-negara yang memilih cara penindasan yang tak beradab.

    Cara-cara seperti itu tidaklah dapat diterima dan tidak bisa dibiarkan tanpa mendapatkan hukuman. Prancis bermaksud mengambil setiap prakarsa untuk menyertai perubahan-perubahan yang sedang berlangsung di depan mata kita. Inilah makna tindakan kami saat ini di bawah dorongan Presiden Republik Perancis.

    | TEMPO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.