Kapal Korea Selatan Tenggelam, 11 Pelaut Indonesia Tak Jelas Nasibnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Kapal nelayan Korea Selatan, Ahad (12/12) waktu setempat, tenggelam di perairan sekitar 1850 kilometer utara Antartika. Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas, 20 lainnya berhasil diselamatkan, 11 pelaut Indonesia tak jelas nasibnya.

    Namun demikian, menurut juru bicara kelautan Selandia Baru Ross Henderson, 17 pelaut lainnya masih dalam pencarian kemungkinan mereka hilang. Suhu air laut saat musibah terjadi, tambahnya, mencapai dua derajat celscius sehingga mereka diperkriakan hanya sanggup bertahan 10 menit di perairan.

    Petugas pengawal pantai Selandia Baru dan Korea Selatan menyatakan, lima orang tewas, 20 berhasil ditemukan, sedangkan 17 lainnya hilang.

    Kapal nelayan jenis trawler memiliki panjang 58 meter meninggalkan Korea Selatan pada 2 November menuju perairan Antartika. Trawler ini diawaki 11 pelaut Indonesia, 11 Vietnam, delapan Korea Selatan, delapan Cina, tiga Filipina, dan satu dari Rusia.

    Menurut Henderson, mengutip keterangan pusat penelitan laut Amerika Serikat, kapal tenggelam pada Ahad pukul 6.30 pagi waktu setempat di perairan Antartik Utara, sekitar 1850 kilometer utara McMurdo. Sedangkan dinas kelautan Selandia Baru mengetahui insiden kecelakaan pada pukul satu siang. Terdapat rentang waktu 4,5 jam.

    Sebelum kejadian, kata Henderson, tidak ada panggilan emerjensi melalui radio dan tidak jelas apa yang terjadi. Henderson melanjutkan, setelah mengetahui ada kecelakaan, mereka mengirimkan dua kapal nelayan Selandia Baru bersama tiga kapal trawler Korea Selatan ke tempat kejadian perkara. Selain itu, petugas kelautan juga meminta kepada seluruh kapal yang dekat dengan tempat kejadian segera memberikan pertolongan. Saat ini, kondisi laut tenang tidak ada ombak besar hanya satu meter.

    CNN | CHOIRUL

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.