WikiLeaks Bikin Menteri Hillary Sibuk

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hillary Rodham Clinton. AP/Evan Vucci

    Hillary Rodham Clinton. AP/Evan Vucci

    TEMPO Interaktif, Selain Julian Paul Assange, pendiri WikiLeaks, yang juga sibuk akhir-akhir pekan kemarin adalah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton. Dalam sepekan berselang, bekas Senator New York berumur 63 tahun itu telah berbicara dengan 12 pemimpin dunia, termasuk Presiden Afganistan Hamid Karzai dan Presiden Pakistan Asif Ali Zardari. 

    "Beliau menyampaikan penyesalan atas keluarnya dokumen-dokumen tertutup itu," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, P.J. Crowley. Semua itu berawal dari bocornya lebih 250 ribu dokumen kabel diplomatik Amerika Serikat yang kemudian diunggah ke laman situs “peniup peluit” WikiLeaks, pekan-pekan lalu.

    Nyonya Clinton merasa perlu meminta maaf karena isinya banyak mencela kepemimpinan sejumlah kepala negara dan pemerintahan di dunia. Dalam dokumen itu, semisal, Presiden Karzai disebut-sebut menderita paranoid. Lalu Presiden Argentina Cristina Fernandez de Kirchner dibilang mudah gelisah dan kelewat cemas. 

    "Bagaimana Cristina Fernandez de Kirchner mengatasi kegelisahan dan kecemasannya? Apakah stres itu mempengaruhi dia dalam memberi nasihat dan keputusan?" demikian bunyi kawat diplomatik yang dikirim atas nama Hillary ke Kedutaan Amerika Serikat di Buenos Aires pada 31 Desember 2009. Itu belum seberapa. 

    Kuasa Usaha (Charge d’Affaires) Kedutaan Amerika di sana lalu mengirim kawat diplomatik yang isinya dugaan Cristina, 57 tahun, dengan para penyelundup narkoba. Cristina, yang baru saja ditinggal wafat suaminya, belum menanggapi isu ini. Cuma, Kepala Staf Presiden Aníbal Fernández murka bukan kepalang. 
    "Goblok!" kata Fernandez. "Kalau benar Kelly menulis begitu, saya pastikan kariernya akan selesai di tempat sampah." 

    Hillary dan Cristina sejatinya sama-sama bekas Ibu Negara. Suami Hillary adalah bekas Presiden Bill Clinton, sedangkan mendiang suami Cristina bekas Presiden Néstor Kirchner. Keduanya pernah bertemu pada 1 Maret lalu di Buenos Aires. 

    Kemarin Hillary dan Cristina bersua lagi. Menurut Crowley dalam pertemuan itu Presiden Cristina, yang dijuluki titisan Evieta Peron oleh rakyatnya, mendukung Menteri Hillary dalam mewujudkan kerja sama dan persahabatan kedua negara yang lebih erat lagi ke depan. "Mereka berharap bisa bertemu lagi di lain waktu," ucap Crowley.

    Menurut daftar pertemuan yang dirilis Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary juga bertemu dengan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirlef, Menteri Luar Negeri Kanada Lawrence Cannon, Menteri Luar Negeri Cina Yang Jiechi, dan Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle--yang dibilang congkak oleh Dubes Amerika di Berlin. 

    Selain itu, kata Crowley, Hillary bertemu dengan Menteri Luar Negeri Prancis Michelle Alliot-Marie, Menteri Luar Negeri Inggris William Hague, dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Saud Al-Faisal. Hillary juga bersua dengan menteri luar negeri Korea Selatan dan Jepang. "Tapi bukan dalam konteks WikiLeaks," kata Crowley. 

    THETIMESOFINDIA | AP | ANDREE PRIYANTO

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.