Lomba Nuklir Ala Israel dan Suriah di Timur Tengah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peta Reaktor Nuklir Israel. Dok: www.pbs.org

    Peta Reaktor Nuklir Israel. Dok: www.pbs.org

    TEMPO Interaktif, Paris - Dua negeri berseteru di Timur Tengah, Israel dan Suriah, Selasa waktu setempat, mengumumkan ambisinya sedang mengembangkan energi nuklir. Israel diperkirakan memiliki prospek lebih bagus meskipun dikerjakan dengan rahasia yang sangat ketat.

    Sementara itu, sejumlah negara meletakkan harapannya pada konferensi di Paris yang membahas masalah nuklir untuk keperluan sipil. Sebab selama ini pemicu pemanasan global disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, namun demikian pengunaan energi nuklir perlu mendapatkan perhatian penuh demi keselamatan umat manusia di masa mendatang.

    Untuk itu pengumuman kedua negara yang akan memanfaatkan energi nuklir harus diawasi ketat oleh inspektur internasional agar tidak dikembangkan menjadi senjata pembunuh. Iran, misalnya, kini mendapatkan tekanan kuat dari dunia internasional agar membuktikan energi nuklirnya benar-benar untuk tujuan damai. Pada acara tersebut, Iran dan Korea Utara dua negara yang telah mengembangkan nuklir tidak diundang dalam konferensi Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan.

    Menteri Infrastruktur Israel Uzi Landau mengatakan kilang nuklir yang dibangun di Israel tingkat keselamatan dan keamanannya dikontrol secara ketat. Perlu diketahui, jelasnya, pembangunannya bekerjasama dengan para ilmuwan dan insinyur dari "tetangga-tetangga Arab kami."

    "Israel membangun energi nuklir demi melepaskan ketergantungan dari energi batubara," kata Landau.

    Program pembangunan tersebut, tambah Landau, untuk membantu Israel aman dari suplai energi sekaligus memerangi pemanasan global. Selama ini Israel menggunakan batubara dan gas untuk menghasilnya energi listrik. Upaya Israel memanfaatkan energi nuklir selama ini diam-diam dikembangkan program senjata nuklir yang mendapatkan perhatians erius dari Agen Energi Atom Internasional (IAEA).

    Secara terpisah, pada konferensi tersebut Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faysal Mekdad mengatakan "Negerinya kini sedang mencari sumber energi alternatif, termasuk energi nuklir."

    "Penerapan energi nuklir untuk tujuan damai tidak harus dimonopoli oleh sedikit negara pemilik teknologi itu, melainkan harus disediakan untuk seluruh negara," kata Mekdad.

    Di antara kedua negara yang sedang bermusuhan, Israel jauh lebih memungkinkan mampu mengembangkan energi nuklir karena negara ini telah memiliki kecakapan teknik dan infrastruktur. Tetapi Israel belum menandatangani perjanjian nonproliferasi, yang bertujuan membatasi jumlah negara yang mampu mengembangkan senjata nuklir.

    Sesunggunya gagasan mengembangkan energi nuklir di Israel sudah lama mengemuka. Bahkan pada 2007, salah satu pendahulu Landau mengatakan dia akan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di pada pasir Negev, Israel selatan.

    Beberapa bulan lalu Landau bertemu dengan Menteri Energi Perancis Jean-Louis Borloo dan menyampaikan ide Perancis-Israeli-Yordania bekerjasama dalam pembangunan reaktor nuklir. Borloo sangat antusias dengan gagasan Landau. Sebab Perancis merupakan negara yang membutuhkan banyak energi listrik dari tenaga nuklir dibandingkan dengan negara-negara lain dan antusias ingin mengembangkan energi nuklir untuk industri. Selain itu, Perancis melihat ada peluang ekspor.

    Pada 1950, Perancis membantu Israel membangun reaktor nuklir di Dimona. Israel dipercaya menggunakan reaktor nuklir sebagai senjata mematikan. Namun Israel membantah menggunakan tenaga nuklir menjadi senjata pemusnah menyusul kebijaksanaan negaranya yang disebut "ambiguitas nuklir." Israel juga diyakini memiliki reaktor nuklir untuk penelitian di Nahal Soreq, tak jauh dari Tel Aviv.

    AP | CHOIRUL



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?