Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Oposisi Afghanistan Janjikan Perang Gerilya untuk Memaksa Taliban Gelar Pemilu

Reporter

Editor

Ida Rosdalina

image-gnews
Ahmad Massoud, pemimpin Front Perlawanan Nasional Afghanistan (NRF) di pengasingan dan putra mantan komandan mujahidin anti-Soviet Ahmad Shah Massoud. REUTERS
Ahmad Massoud, pemimpin Front Perlawanan Nasional Afghanistan (NRF) di pengasingan dan putra mantan komandan mujahidin anti-Soviet Ahmad Shah Massoud. REUTERS
Iklan

TEMPO.CO, JakartaTidak ada pembicaraan dengan Taliban untuk merundingkan penyelesaian perdamaian, kata pemimpin anti-Taliban Afghanistan Ahmad Massoud pada Kamis, 28 September 2023, dan berjanji untuk meningkatkan "perang gerilya" untuk membawa kelompok Islam garis keras ke meja perundingan.

Berbicara dalam sebuah wawancara di Paris, Massoud, pemimpin Front Perlawanan Nasional Afghanistan (NRF) yang diasingkan, mengatakan bahwa satu-satunya cara bagi Taliban untuk mendapatkan legitimasi adalah dengan mengadakan pemilu, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi untuk saat ini.

“Taliban menolak pembicaraan negosiasi apa pun dan mereka hanya ingin dunia dan rakyat Afghanistan menerima bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk maju, padahal sebenarnya tidak,” kata Massoud, putra mantan komandan mujahidin anti-Soviet. Ahmad Shah Massoud, mengatakan pada Kamis malam.

NRF mengelompokkan kekuatan oposisi yang setia kepada Massoud. Mereka menentang pengambilalihan Taliban dan bentrokan telah terjadi sejak Agustus 2021 antara kedua belah pihak di kubu gerakan perlawanan di Panjshir, sebelah utara ibu kota Kabul.

Massoud, yang beroperasi dari luar negeri, mengatakan NRF terpaksa mengubah taktik karena tidak dapat melawan Taliban yang memiliki persenjataan lengkap secara konvensional.

“Tahun lalu, kami memilih pendekatan yang lebih pragmatis dan itu adalah perang gerilya. Itu sebabnya Anda melihat jumlah kami lebih sedikit tetapi dampaknya lebih besar,” katanya, sambil menambahkan bahwa jumlah pejuangnya berkembang dari 1.200 menjadi 2.000.

Pria berusia 34 tahun, yang berada di Paris untuk meluncurkan buku baru, mengatakan para pejuangnya tidak menerima bantuan militer apa pun, namun mengandalkan persediaan dari perang selama beberapa dekade di negara tersebut dan membutuhkan amunisi.

“Perlawanan itu cukup membuat pusing Taliban, namun tidak untuk menjatuhkan mereka atau membuat mereka terlalu menderita sehingga mereka datang untuk melakukan perundingan yang tepat dan bermakna. Jadi, ini adalah hal yang harus dipahami dunia,” ujarnya.

Massoud menolak saran untuk kembali ke Afghanistan sebagai bagian dari skema reintegrasi mantan pejabat Taliban.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Orang-orang yang meninggalkan Afghanistan, mereka pergi bukan hanya sekedar untuk rumah atau mobil. Mereka pergi karena tujuan mulia. Mereka pergi karena beberapa prinsip,” katanya.

“Jika Taliban mengumumkan bahwa mereka menerima pemilu, hari ini kami sebuah bisa kembali karena itulah yang kami inginkan.”

Pemilu terakhir di Afghanistan diadakan di bawah pemerintahan yang didukung AS yang digulingkan Taliban pada Agustus 2021 ketika pasukan Barat mundur. Taliban membubarkan komisi pemilu negara itu pada Desember 2021.

Banyak negara Barat yang secara formal tidak mengakui pemerintahan Taliban, terutama karena perlakuannya terhadap perempuan di negara tersebut. Namun hanya ada sedikit tekanan atau keinginan untuk sekali lagi terlibat di negara yang fokus utamanya adalah perang di Ukraina.

“Kami berusaha untuk memberitahu Barat bahwa mungkin Anda sibuk dengan Ukraina, tetapi pada saat yang sama Anda perlu memberi perhatian pada situasi di Afghanistan karena situasi di sana adalah bom waktu,’ kata Massoud.

REUTERS

Pilihan Editor: Putin Bertemu Komandan Baru Wagner, Pasukan Akan Dikirim Lagi ke Ukraina?

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


AS Beri Sanksi Puluhan Orang di Seluruh Dunia atas Pelanggaran HAM

17 jam lalu

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bertemu dengan para pemimpin hak asasi manusia di Departemen Luar Negeri di Washington, AS, 7 Desember 2023. REUTERS/Evelyn Hockstein
AS Beri Sanksi Puluhan Orang di Seluruh Dunia atas Pelanggaran HAM

Setahun terakhir, Departemen Keuangan AS telah memberikan sanksi kepada lebih dari 150 individu dan entitas di banyak negara terkait Pelanggaran HAM.


Dilarang Taliban, Produksi Opium Afghanistan Anjlok 95 Persen

34 hari lalu

Arsip- Pria Afghanistan memanen opium di ladang opium di sebuah desa di distrik Golestan, provinsi Farah, 5 Mei 2009. REUTERS/Goran Tomasevic
Dilarang Taliban, Produksi Opium Afghanistan Anjlok 95 Persen

Produksi opium di Afghanistan, yang sebelumnya merupakan pemasok utama dunia, anjlok 95 persen sejak Taliban melarang penanaman narkotika itu.


Profil Al Quds, Pasukan Elite Iran yang Pernah Berhadapan dengan Taliban dan AS

36 hari lalu

Anggota pasukan khusus IRGC, Korps Pengawal Revolusi Islam, menghadiri aksi peringatan Hari Quds tahunan, atau Hari Yerusalem, pada hari Jumat terakhir bulan suci Ramadan di Teheran, Iran, 29 April 2022. Majid Asgaripour/WANA (Kantor Berita Asia Barat) via REUTERS
Profil Al Quds, Pasukan Elite Iran yang Pernah Berhadapan dengan Taliban dan AS

Iran dikenal memiliki militer yang kuat. Salah satunya adalah keberadaan pasukan Al Quds.


Taliban Minta Pengungsi Afghanistan Diberi Waktu Sebelum Tinggalkan Pakistan

37 hari lalu

Pengungsi Afghanistan menghabiskan waktu bersama setelah banjir besar di distrik Khushi di Logar, Afghanistan, 21 Agustus 2022. REUTERS/Stringer
Taliban Minta Pengungsi Afghanistan Diberi Waktu Sebelum Tinggalkan Pakistan

Pengungsi Afghanistan diminta segera meninggalkan Pakistan. Taliban meminta para pengungsi diberi tambahan waktu.


Tenggat Waktu Berakhir, Warga Afghanistan Tak Berdokumen Tinggalkan Pakistan

38 hari lalu

Warga Afghanistan menunggu dengan barang-barang mereka untuk menyeberang ke Afghanistan, setelah Pakistan memberikan peringatan terakhir kepada imigran tidak berdokumen untuk pergi, di Gerbang Persahabatan Penyeberangan Perbatasan Chaman di sepanjang Perbatasan Pakistan-Afghanistan di Provinsi Balochistan, di Chaman, Pakistan 31 Oktober 2023.  REUTERS/Abdul Khaliq Achakz
Tenggat Waktu Berakhir, Warga Afghanistan Tak Berdokumen Tinggalkan Pakistan

Warga Afghanistan merupakan sebagian besar dari 140.000 imigran tidak berdokumen yang meninggalkan Pakistan.


UNHCR: Pemulangan Pengungsi Afghanistan dari Pakistan Ancam Perempuan

39 hari lalu

Wanita Afghanistan yang tinggal di Pakistan menunggu untuk didaftarkan saat pengumpulan bukti pendaftaran di kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di Peshawar, Pakistan, 30 September 2021. REUTERS/Fayaz Aziz
UNHCR: Pemulangan Pengungsi Afghanistan dari Pakistan Ancam Perempuan

UNGHC mengatakan keputusan Pakistan memulangkang warga Afghanistan menciptakan "risiko perlindungan serius" bagi perempuan dan anak perempuan.


Pakistan Usir Jutaan Warga Afghanistan, Besok Hari Terakhir

39 hari lalu

Warga Afghanistan berkumpul untuk naik bus saat mereka bersiap untuk kembali ke rumah, setelah Pakistan memberikan peringatan terakhir kepada migran tidak berdokumen untuk pergi, di halte bus di Karachi, Pakistan 29 Oktober 2023. REUTERS/Akhtar Soomro
Pakistan Usir Jutaan Warga Afghanistan, Besok Hari Terakhir

Pemerintah Pakistan memberi batas waktu sampai 1 November 2023 bagi 4 juta warga negara Afghanistan yang tidak mempunyai izin tinggal


Peringatan Terakhir Pakistan, Ratusan Ribu Pengungsi Afghanistan Harus Angkat Kaki

44 hari lalu

Wanita Afghanistan yang tinggal di Pakistan menunggu untuk didaftarkan saat pengumpulan bukti pendaftaran di kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di Peshawar, Pakistan, 30 September 2021. REUTERS/Fayaz Aziz
Peringatan Terakhir Pakistan, Ratusan Ribu Pengungsi Afghanistan Harus Angkat Kaki

Keputusan itu diambil setelah warga Afghanistan diketahui terlibat dalam kejahatan, penyelundupan dan serangan terhadap pemerintah dan tentara.


Mengenang Keberanian Malala Yousafzai 11 Tahun Lalu, Peluru Taliban Tak Menghentikannya

9 Oktober 2023

Sejumlah anak menyalakan lampu minyak di samping sebuah foto Malala Yousufzai, yang ditembak pada hari selasa (9/10) oleh Taliban karena berbicara menentang Taliban dan mengkampanyekan pendidikan bagi anak perempuan, di sebuah sekolah di Peshawar, Pakistan, Jumat (12/10). REUTERS/Athar Hussain
Mengenang Keberanian Malala Yousafzai 11 Tahun Lalu, Peluru Taliban Tak Menghentikannya

Pada 9 Oktober 2012, gadis Pakistan Bernama Malala Yousafzai ditembak Taliban Pakistan karena kegigihannya menyuarakan hak pendidikan perempuan.


Gempa Besar Afghanistan, Korban Bertambah Jadi 2.445 Orang

9 Oktober 2023

Reruntuhan bangunan pasca gempa Afghanistan, 8 Oktober 2023. Cuplikan video REUTERS
Gempa Besar Afghanistan, Korban Bertambah Jadi 2.445 Orang

Lebih dari 2.400 orang tewas dalam gempa di Afghanistan, salah satu yang paling mematikan di dunia tahun ini, setelah di Turki dan Suriah.