Inggris Ragu Amerika Akan Perpanjang Durasi Masa Evakuasi di Afghanistan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang bayi diserahkan kepada tentara Amerika Serikat melewati kawat berduri di tembok pembatas bandara di Kabul, Afghanistan, 19 Agustus 2021. Sejumlah ibu di Afghanistan rela memanjat tembok bandara demi menyerahkan bayi mereka untuk diselamatkan ke tentara negara-negara asing yang berjaga. OMAR HAIDARI/via REUTERS

    Seorang bayi diserahkan kepada tentara Amerika Serikat melewati kawat berduri di tembok pembatas bandara di Kabul, Afghanistan, 19 Agustus 2021. Sejumlah ibu di Afghanistan rela memanjat tembok bandara demi menyerahkan bayi mereka untuk diselamatkan ke tentara negara-negara asing yang berjaga. OMAR HAIDARI/via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Inggris ragu Amerika akan memperpanjang durasi masa evakuasi warga di Afghanistan. Menurut Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace, Joe Biden tidak pernah benar-benar menunjukkan rencana memperpanjang durasi evakuasi. Di sisi lain, kata ia, Taliban juga akan menghalangi.

    "Saya rasa perpanjangan itu tidak akan terjadi. Tidak hanya karena faktor Taliban, tetapi juga pernyataan Joe Biden soal perpanjangan itu sendiri," ujar Wallace, dikutip dari kantor berita Reuters, Selasa, 24 Agustus 2021.

    Sebelumnya, Joe Biden mengatakan bahwa pembahasan soal perpanjangan durasi masa evakuasi dari akhir Agustus ke September tengah didiskusikan. Walau begitu, Joe Biden berharap perpanjangan itu tidak perlu sampai dilakukan. Oleh karenanya, dirinya terus menggenjot evakuasi warga di Afghanistan.

    Sementara itu, Taliban, menyatakan tidak akan menyetujui permohonan apapun perihal memperpanjang durasi masa evakuasi. Namun, untuk saat ini, mereka mengklaim akan membantu proses evakuasi yang sedang berlangsung.

    Seorang anggota Taliban berjaga saat orang-orang berjalan di pintu masuk Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, 16 Agustus 2021. Diketahui sebelumnya Taliban menggunakan senapan AK-47, tetapi kini pasukan tersebut telah menggunakan senjata milik Amerika Serikat M16. REUTERS/Stringer

    Meski skeptis perpanjangan akan terjadi, Wallace tetap mengatakan bahwa segala kemungkinan bisa terjadi. Hal itu sendiri akan dibahas dalam rapat G7 di mana Amerika adalah salah satu anggotanya. Oleh karenanya, kata Wallace, upaya untuk melakukan perpanjangan akan tetap ada terlepas apapun hasilnya nanti.

    Jika Amerika dan sekutunya nekat memperpanjang durasi masa evakuasi tanpa persetujuan Taliban, Wallace memprediksi bakal ada respon keras. Respon itu bisa berupa serangan ke Banda Hamid Karzai, Kabul, yang menjadi pintu evakuasi. Puluhan ribu orang menanti evakuasi di sana.

    "Jika bandara itu diserang, ditutup, dan kemudian dibombardir dengan mortir, maka kita akan menghadapi masalah kemanusiaan yang serius," ujarnya.

    Terakhir, Wallace menyatakan bahwa tak ada prospek bagi Inggris melanjutkan upaya evakuasi jika Amerika sendiri tidak bisa melakukannya di atas tanggal 31 Agustus. Menurutnya, kehadiran ribuan militer Amerika adalah bagian integral dari proses evakuasi.

    Sejauh ini, Inggris telah mengevakuasi 8600 orang dari Afghanistan dalam dua pekan terakhir. Sebanyak 2000 di antaranya diselamatkan dalam 24 jam terakhir. Belum diketahui berapa lagi yang akan diselamatkan Inggris dari Taliban, namun Wallace pesimistis semua bakal tertangani. "Kami tak akan bisa menyelamatkan semuanya," ujarnya.

    Baca juga: Inggris Sudah Evakuasi 7 Ribu Orang dari Afghanistan

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.