Covid-19 di Jepang Melonjak, Hanya Pasien Parah yang Dirawat di Rumah Sakit

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang yang mengenakan masker tiba di Stasiun Shinagawa pada awal hari kerja di tengah wabah Covid-19 di Tokyo, Jepang, 2 Agustus 2021.[REUTERS/Kevin Coombs TPX IMAGES OF THE DAY]

    Penumpang yang mengenakan masker tiba di Stasiun Shinagawa pada awal hari kerja di tengah wabah Covid-19 di Tokyo, Jepang, 2 Agustus 2021.[REUTERS/Kevin Coombs TPX IMAGES OF THE DAY]

    TEMPO.CO, Jakarta - Jepang hanya akan merawat pasien Covid-19 yang sakit parah dan mereka yang berisiko di rumah sakit. Sedangkan penderita Covid-19 yang masuk kategori ringan dan sedang diminta melakukan isolasi mandiri di rumah.

    Menurut para pejabat setempat, terjadi kekhawatiran rumah sakit akan kewalahan melayani pasien Covid-19 yang terus naik setelah Tokyo menjadi tuan rumah Olimpiade 2021.

    Saat ini kasus Covid-19 di Jepang meningkat tajam dengan 10.000 kasus baru setiap hari secara nasional. Tokyo memiliki rekor tertinggi 4.058 pada hari Sabtu pekan lalu.

    Hironori Sagara, Direktur Rumah Sakit Universitas Showa mengatakan kepada Reuters bahwa rumah sakit sudah mulai krisis akibat melonjaknya pasien. "Ada yang ditolak berulang kali untuk masuk," katanya dalam sebuah wawancara. "Di tengah kegembiraan Olimpiade Tokyo, situasi tenaga medis sangat parah."

    Kepala Sekretaris Kabinet Katsunobu Kato mengatakan kepada wartawan bahwa lebih sedikit orang lanjut usia, yang sebagian besar sudah divaksinasi, yang terinfeksi. "Di sisi lain, infeksi pada orang yang lebih muda meningkat dan orang-orang berusia 40-an dan 50-an dengan gejala parah meningkat," katanya. "Dengan orang-orang yang juga dirawat di rumah sakit dengan serangan panas, beberapa orang tidak bisa segera dirawat. Mereka pulih di rumah."

    Perdana Menteri Yoshihide Suga, yang mengumumkan pemerintah akan memastikan orang-orang yang diisolasi di rumah dapat dirawat di rumah sakit jika memang diperlukan. Sebelumnya Jepang melayani semua pasien Covid-19 untuk berbagai kategori.

    Namun perubahan kebijakan tersebut dikhawatirkan bisa memicu angka kematian.
    "Mereka menyebutnya perawatan di rumah, namun itu adalah pengabaian di rumah," kata Partai Demokrat Konstitusi Jepang yang merupakan pemimpin oposisi, Yukio Edano seperti dikutip oleh TV publik NHK.

    Jepang pada hari Senin memperluas keadaan darurat dengan memasukkan tiga prefektur di dekat Tokyo dan prefektur barat Osaka. Keadaan darurat di Tokyo adalah yang keempat sejak pandemi dimulai, dan di Okinawa akan berlangsung hingga 31 Agustus.

    Surat kabar Tokyo Shimbun menyatakan sebanyak 12.000 pasien covid-19 diisolasi di rumah, meningkat 12 kali lipat dalam sebulan terakhir.

    Baca: Kasus Baru Covid-19 di Tokyo Tembus Jumlah Tertinggi

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.