Akibat Varian Delta COVID-19, Amerika Ogah Cabut Pembatasan Perjalanan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua orang pejalan kaki melintasi Times Square di New York, Amerika Serikat (AS), pada 28 September 2020. Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah korban meninggal Covid-19 terbanyak di dunia yaitu 211,475 dikutip dari situs Worldometers.info.  (Xinhua/Wang Ying)

    Dua orang pejalan kaki melintasi Times Square di New York, Amerika Serikat (AS), pada 28 September 2020. Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah korban meninggal Covid-19 terbanyak di dunia yaitu 211,475 dikutip dari situs Worldometers.info. (Xinhua/Wang Ying)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Amerika memutuskan untuk tidak mencabut pembatasan perjalanan yang tengah berlaku. Keputusan itu diambil mengingat varian Delta COVID-19 menyebar dengan cepat di berbagai negara dan Amerika tidak ingin jumlah kasus lokal terus naik.

    Menurut laporan Reuters, Pemerintah Amerika mengambil keputusan itu pada Jumat pekan lalu, usai pertemuan tingkat senior di Gedung Putih. Indikasi dari pertemuan itu, pembatasan perjalanan di Amerika tidak akan dicabut dalam waktu dekat.

    "Melihat kondisi saat ini, dengan adanya Varian Delta, kami memutuskan untuk mempertahankan pembatasan perjalanan. Varian Delta menyebabkan kenaikan jumlah kasus di sini, terutama pada mereka yang belum divaksin, dan diprediksi akan berlanjut," ujar juru bicara Pemerintah Amerika, Jen Psaki, Senin waktu setempat, 26 Juli 2021

    Keputusan tersebut tak ayal menjadi petak bagi sektor pariwisata dan penerbangan Amerika. Mereka berencana menggunakan libur musim panas untuk memperbaiki kondisi finansialnya yang terdampak pandemi.

    Berberapa bulan terakhir, berbagai perusahaan penerbangan melobi Gedung Putih untuk melakukan pelonggaran pembatasan perjalanan. Mereka ingin pelonggaran dilakukan di pembukaan libur musim panas. Sekarang, dengan belum jelasnya batas akhir pembatasan perjalanan, semua rencana itu buyar.

    Saat ini, Amerika menutup perbatasannya untuk pendatang yang bukan warga mereka dan dalam 14 hari terakhir berkunjung ke Inggris, Irlandia, Cina, India, Afrika Selatan, Iran, Brasil, dan 26 negara wilayah Schengen di Eropa. Perbatasan darat dengan Kanada dan Meksiko juga ditutup, namun untuk perjalanan non-esensial.

    Kanselir Jerman Angela Merkel, dalam kunjungannya ke Gedung Putih pada pertengahan Juli, menyatakan negaranya akan kooperatif dengan pembatasan-pembatasan yang diterapkan Amerika. Jika Amerika berencana mengangkat pembatasan dalam waktu dekat, ia berharap keputusan itu bersifat logis dan berkelanjutan.

    "Tidak baik jika keputusan itu kemudian dicabut lagi beberapa hari kemudian," ujar Merkel kepada Presiden Amerika Joe Biden.

    Menurut data dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika, rata-rata jumlah kasus per hari dalam sepekan terakhir naik 53 persen dibanding pekan sebelumnya. Kasus akibat varian Delta COVID-19 menyumbang 80 persen di antaranya. Adapun varian yang berasal dari India tersebut sudah terdeteksi di 90 negara per berita ini ditulis.

    Baca juga: Wamenlu Cina Tuduh Amerika Ciptakan Musuh Imajiner untuk Tekan Cina

    REUTERS | ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.