Dukung Gerakan Demokrasi Myanmar, Twitter Luncurkan Emoji Milk Tea Alliance

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pengunjuk rasa yang mengenakan topeng yang menggambarkan pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi, memberikan hormat tiga jari saat mereka mengambil bagian dalam protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, 28 Februari 2021. REUTERS/Stringer

    Para pengunjuk rasa yang mengenakan topeng yang menggambarkan pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi, memberikan hormat tiga jari saat mereka mengambil bagian dalam protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, 28 Februari 2021. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, JakartaTwitter pada hari Kamis meluncurkan emoji untuk Milk Tea Alliance, gerakan pro-demokrasi online global yang telah menyatukan aktivis pro-demokrasi anti-Beijing di Hong Kong dan Taiwan dengan pengunjuk rasa di Thailand, Myanmar, dan sekitarnya.

    Aktivis menyambut baik pengumuman emoji, sebuah cangkir putih dengan latar belakang tiga warna yang mewakili nuansa berbeda dari teh susu di Thailand, Hong Kong dan Taiwan, untuk peringatan pertama gerakan tersebut.

    Emoji Twitter menunjukkan pengakuan global dan memberikan kredibilitas yang lebih besar kepada gerakan pemuda, kata aktivis Thailand terkemuka Netiwit Chotiphatphaisal, salah satu aktivis terkemuka Milk Tea Alliance.

    "Ini penting karena ini menunjukkan kepada orang-orang muda yang berjuang untuk demokrasi bahwa dunia ada bersama mereka dan mereka membuat dampak," kata Netiwit kepada Reuters. "Itu adalah tanda bahwa aktivisme online bisa melangkah lebih jauh."

    Milk Tea Alliance muncul dari perang Twitter yang berkobar setelah nasionalis Cina menuduh aktor muda Thailand dan pacarnya mendukung demokrasi di Hong Kong dan kemerdekaan Taiwan.

    Nama Milk Tea Alliance diambil dari kegemaran bersama akan minuman teh susu manis di tiga tempat tersebut.

    Potret Raja Maha Vajiralongkorn terlihat saat para demonstran pro-demokrasi memberikan penghormatan tiga jari, pada peringatan 47 tahun pemberontakan mahasiswa 1973, di Bangkok, Thailand 14 Oktober 2020. Salam ini sempat dilarang digunakan dalam aksi protes di Thailand. REUTERS/Jorge Silva

    Twitter diblokir di Cina dan dukungan yang jelas dari gerakan dengan arus oposisi yang kuat terhadap Beijing tidak mungkin merugikan bisnisnya, kata James Buchanan, dosen di Mahidol University International College, Bangkok.

    "Twitter memiliki banyak keuntungan dengan menarik kaum muda di pasar Asia yang terbuka untuk mereka," katanya.

    Baca juga: Aksi Solidaritas untuk Myanmar Digelar di Depan Gedung ASEAN

    Penggunaan tagar Milk Tea Alliance viral lagi pada Februari setelah kudeta militer di Myanmar, di mana pengunjuk rasa yang menggunakan tagar tersebut menggalang dukungan regional.

    "Kami telah melihat lebih dari 11 juta Tweet yang menampilkan hashtag #MilkTeaAlliance selama setahun terakhir," kata Twitter dalam pengumuman resmi.

    Twitter mendorong hashtag agar menjadi salah satu trending teratas di Thailand, Hong Kong dan Taiwan pada Kamis.

    Sebelumnya, Twitter meluncurkan emoji untuk gerakan #MeToo dan #BlackLivesMatter.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.