Donald Trump Sebut Pendukungnya Cium dan Peluk Polisi di Kerusuhan Capitol

Gestur Donald Trump dan ibu negara Melania Trump saat meninggalkan Gedung Putih, menjelang pelantikan presiden terpilih Joe Biden, di Washington, AS, 20 Januari 2021. Trump memutuskan tidak hadir dalam pelantikan Joe Biden. REUTERS/Leah Millis

TEMPO.CO, Jakarta - Tak lagi menjadi Presiden Amerika tidak mengubah gaya Donald Trump dalam merespon isu sensitif. Ia masih kerap membuat klaim tak berdasar, bahan berbohong. Kali ini soal kerusuhan US Capitol, peristiwa yang membuatnya dimakzulkan dua kali. Trump menyebut pendukungnya bukan ancaman dalam peristiwa berdarah itu.

Klaim itu dikeluarkan Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News. Ketika ditanyai apakah ada kekhawatiran darinya soal penjagaan US Capitol diperketat usai kerusuhan, ia menganggapnya sebagai manuver politik yang berlebihan karena pendukungnya tidak seberbahaya kabar di media.

"Mereka sama sekali bukan ancaman sejak awal. Betul mereka masuk ke US Capitol dan mereka tidak seharusnya melakukan itu. Namun, mereka yang masuk berpelukan dan mencium para polisi dan penjaga. Mereka punya hubungan yang bagus," ujar Donald Trump, dikutip dari CNN, Jumat, 26 Marey 2021.

Donald Trump melanjutkan, karena para pendukungnya tidak berbuat jahat kepada penjaga, maka mereka diperbolehkan keluar masuk US Capitol. Tak ada pemaksaan ataupun perusakan ujar Trump.

Gas air mata dilepaskan di antara pengunjuk rasa saat bentrokan dengan polisi di Gedung Capitol pada rapat pengesahan hasil pemilihan presiden 2020 oleh Kongres AS di Gedung Capitol AS di Washington, 6 Januari 2021. Sekitar 350 pasukan Garda Nasional D.C. dikerahkan untuk mengantisipasi kerusuhan yang diperkirakan akan terjadi. REUTERS/Shannon Stapleton

Ketika ditanyai lebih lanjut apakah sejumlah pendukungnya perlu dimintai tanggung jawab atas kerusuhan US Capitol, Donald Trump mengiyakan. Menurutnya, beberapa tetap perlu diperkarakan karena memasuki properti Pemerintah Amerika tanpa izin. Walau begitu, kata Trump, ada isu lain yang lebih penting dibandingkan pendukungnya di kerusuhan US Capitol.

Isu tersebut adalah Antifa. Menurut Donald Trump, Antifa melakukan hal yang lebih buruk dibandingkan pendukungnya dan seharusnya mereka lebih banyak mendapat perhatian.

"Ketika saya melihat Antifa di Washington, kerusakan yang mereka buat di sana dan di kota-kota lain itu tidak tersentuh. Tidak ada apapun yang terjadi pada mereka. Kenapa aparat tidak memburu Antifa?" ujar Donald Trump mencoba membawa isu ke hal lain.

Presenter Fox News mencoba membawa kembali Donald Trump ke isu kerusuhan US Capitol. Kepada Trump, ia bertanya, apakah dirinya mendukung proses hukum yang tidak memandang orientasi politik. Donald Trump menjawab mendukung proses hukum terhadap siapapun yang berbuat jahat terlepas apapun orientasi politiknya.

Dalam kasus kerusuhan US Capitol, puluhan orang ditetapkan sebagai tersangka untuk berbagai pasal mulai dari perusakan properti pemerintah Amerika, menerobos properti pemerintah secara paksa, hingga pembunuhan. Ada enam orang yang tewas dalam peristiwa tersebut.

Baca juga: Donald Trump Dikabarkan Balik ke Publik dengan Media Sosial Baru

ISTMAN MP | CNN






Mengenal Arti Vibes yang Bertebaran di Media Sosial

1 hari lalu

Mengenal Arti Vibes yang Bertebaran di Media Sosial

Istilah vibes kerap diucapkan dalam percakapan atau mungkin sering terlihat di caption media sosial. Lalu apa arti vibes tersebut?


Fitur Emergency SOS via Satellite iPhone 14 Selamatkan Pria di Alaska

2 hari lalu

Fitur Emergency SOS via Satellite iPhone 14 Selamatkan Pria di Alaska

Aktivasi fitur Emergency SOS via Satellite milik Apple ini diharapkan meluas ke Prancis, Jerman, Irlandia dan Inggris pada Desember ini.


Biden dan Macron Berselisih soal Subsidi untuk Perusahaan Amerika

4 hari lalu

Biden dan Macron Berselisih soal Subsidi untuk Perusahaan Amerika

Biden menjadi tuan rumah Macron pada kunjungan kenegaraan pertama sejak pemimpin AS itu menjabat pada awal 2021.


Tiga Warga Amerika Didakwa Mendanai Pemberontak Kamerun

5 hari lalu

Tiga Warga Amerika Didakwa Mendanai Pemberontak Kamerun

Warga Amerika tersebut diduga mengumpulkan dana untuk kelompok separatis Kamerun. Mereka bersekongkol menculik warga sipil untuk minta tebusan.


Departemen Luar Negeri Amerika Menyetujui Penjualan Sistem Anti-drone ke Qatar

5 hari lalu

Departemen Luar Negeri Amerika Menyetujui Penjualan Sistem Anti-drone ke Qatar

Potensi penjualan ke Qatar disetujui setelah pada awal tahun ini Presiden Amerika Joe Biden menunjuk Qatar sebagai sekutu utama non-NATO.


Amerika Serikat Mendukung Protes Damai di China

6 hari lalu

Amerika Serikat Mendukung Protes Damai di China

Amerika menyatakan ini adalah momen untuk menegaskan kembali apa yang mereka yakini terkait dengan kebebasan berkumpul dan protes damai.


Gedung Putih Mengawasi Informasi yang Salah di Twitter

6 hari lalu

Gedung Putih Mengawasi Informasi yang Salah di Twitter

Menurut Gedung Putih, perusahaan media sosial seperti Twitter punya tanggung jawab mencegah platformnya digunakan untuk menghasut kekerasan.


Bertemu Tokoh Antisemit, Donald Trump Dikritik Republikan

7 hari lalu

Bertemu Tokoh Antisemit, Donald Trump Dikritik Republikan

Donald Trump dikritik politikus Partai Republik karena bertemu tokoh antisemit Nick Fuentes. Trump mengatakan pertemuan itu tak disengaja.


Iran Kecam Amerika karena Hapus Simbol Allah di Bendera Mereka

7 hari lalu

Iran Kecam Amerika karena Hapus Simbol Allah di Bendera Mereka

Federasi Sepak Bola Iran mengatakan telah mengajukan keluhan kepada FIFA atas penghapusan simbol Allah dari bendera Republik Islam.


Amerika Tambah Daftar Produk Perusahaan Teknologi Terlarang Asal Cina

8 hari lalu

Amerika Tambah Daftar Produk Perusahaan Teknologi Terlarang Asal Cina

Produk-produk yang dimaksud dilarang masuk wilayah perbatasan Amerika. Bukan hanya Huawei.