Netanyahu: Israel yang Pertama Longgarkan Pembatasan Sosial COVID-19

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat menerima dosis kedua vaksin COVID-19 di Sheba Medical Center di Ramat Gan, Israel, 9 Januari 2021. Miriam Elster/Pool via REUTERS

    Ekspresi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat menerima dosis kedua vaksin COVID-19 di Sheba Medical Center di Ramat Gan, Israel, 9 Januari 2021. Miriam Elster/Pool via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Israel selangkah lebih dekat ke situasi normal. Seiring dengan makin banyaknya warga yang telah divaksinasi, Israel mulai melonggarkan pembatasan sosial COVID-19. Adapun jumlah warga Israel yang telah menerima dosis pertama vaksin COVID-19 kurang lebih 45 persen dari total 9 juta.

    Dikutip dari kantor berita Al Jazeera, Israel mulai melonggarkan pembatasan sosialnya sejak Ahad kemarin, 21 Februari 2021. Mereka memulainya dengan memperbolehkan toko buka serta membatasi akses ke tempat hiburan dan gym kepada mereka yang telah divaksin. Sebagai langkah tambahan, Israel meluncurkan Green Pass yang menjadi bukti digital untuk mereka yang telah divaksin atau terbukti immune.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengaku bangga atas capaian ini. Menurutnya, belum ada negara selain Israel yang sudah mulai melakukan pelonggaran pembatasan sosial dengan skala serupa. 

    "Kami adalah negara pertama di duinia yang mulai memulihkan diri ke normalitas. Terima kasih kepada jutaan vaksin yang memungkinkan hal ini terjadi. Sudah divaksin? Ambiil Green Pass dan kembalilah ke kehidupan," ujar Benjamin Netanyahu, Ahad, 21 Februari 2021.

    Bar di Israel membuka tempat untuk suntik vaksin virus corona. Sumber: Reuters/Yahoo News

    Meski Israel sudah memulai pelonggaran, penggunaan masker dan menjaga jarak fisik tetap diwajibkan. Hal itu mengingat masih ada separuh warga yang belum menerima vaksin COVID-19.

    Selain masih mempertahankan aturan wajib memakai masker, Pemerintah Israel juga masih membatasi akses ke tempat ibadah. Tempat ibadah, apapun itu, hanya boleh menerima 50 persen dari kapasitas bangunannya. Hal yang sama berlaku untuk sekolah menengah pertama yang masih memberlakukan home schooling.

    Pemerintah Israel menjelaskan, pelonggaran akan dijalankan secara bertahap. Sebab, jika terlalu cepat, berpotensi untuk meningkatkan angka penularan lagi terlepas vaksinasi berjalan lancar sejauh ini.

    Sebagai tambahan, Israel tercatat memiliki 750 ribu kasus dan 5.577 kematian akibat COVID-19. Untuk menekan angka tersebut agar tidak bertambah banyak, Israel meneken kerjasama khusus dengan produsen vaksin asal Amerika, Pfizer.

    Kepada Pfizer, Israel menjanjikan keterbukaan terhadap seluruh data medis pasien-pasien COVID-19 yang ada di negaranya. Sebagai timbal baliknya, Israel meminta suplai dosis yang teratur dari Pfizer agar vaksinasi COVID-19 tak terganggu. 

    Baca juga: Sempat Tertunda, Israel Kirim Vaksin Covid-19 Untuk Palestina

    ISTMAN MP | AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?