Boris Johnson: Varian Baru COVID-19 di Inggris Mungkin Lebih Berbahaya

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara selama konferensi pers virtual, setelah memimpin pertemuan COBRA, yang diadakan sebagai tanggapan atas peningkatan pembatasan perjalanan di tengah pandemi penyakit virus corona (COVID-19), di 10 Downing Street, di London, Inggris, 21 Desember 2020. [Tolga Akmen / Pool via REUTERS]

TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, memperbarui pernyataannya soal varian baru COVID-19 yang terdeteksi pada akhir 2020 lalu. Ia berkata, ada indikasi bahwa varian baru tersebut lebih berbahaya dibanding perkiraan sebelumnya.

"Kami telah diberitahu bahwa selain varian baru COVID-19 itu lebih cepat menyebar, ada sejumlah bukti tingkat kematian yang lebih tinggi," ujar Boris Johnson, dikutip dari CNN, 23 Januari 2021.

Walaupun ada indikasi varian baru COVID-19 di Inggris lebih berbahaya dibanding perkiraan, Johnson mengklaim vaksin yang ada masih bisa menanganinya. Oleh karenanya, kata ia, vaksin COVID-19 buatan Pfizer dan AstraZeneca akan tetap digunakan.

Kepala Penasehat Sains Pemerintah Inggris, Patrick Vallance, mengklarifikasi pernyataan Boris Johsnon. Ia berkata, walaupun ada indikasi varian baru COVID-19 memiliki resiko kematian lebih tinggi, bukti-buktinya belum kuat. Selain itu, angka resiko juga bisa berbeda-beda untuk kelompok usia tertentu.

Sebagai contoh, kata Vallance, pasien usia lansia jelas akan lebih rentan meninggal akibat varian baru COVID-19 dibanding ketika tertular varian lama. Dan, peningkatannya belum tentu besar, bisa saja hanya naik dari 10 per 1000 orang menjadi 13-14 per 1000 orang.

Lalu, soal keampuhan vaksin, Vallance membenarkan bahwa vaksin COVID-19 dari Pfizer dan AstraZeneca masih mampu menangani varian baru. Namun, ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut hanya berlaku untuk varian baru COVID-19 yang terdeteksi di Inggris.

Situasinya, kata Vallance, bisa berubah untuk varian baru COVID-19 dari Afrika Selatan maupun Brasil. Ia mengatakan, varian baru COVID-19 dari kedua negera itu bisa saja lebih bebal terhadap vaksin.

"Kami khawatir varian baru COVID-19 mereka memiliki sejumlah karakteristik yang membuatnya kebih kuat dibanding vaksin. Kami membutuhkan lebih banyak informasi klinis soal itu," ujarnya.

Per berita ini ditulis, Inggris telah mencatatkan 3,5 juta kasus dan 95 ribu korban meninggal akibat COVID-19. Adapun dalam 24 jam terakhir, kasus COVID-19 di Inggris bertambah sebanyak 40.261. Belum diketahui secara spesifik berapa kasus yang disumbangkan varian baru COVID-19. 

Baca juga: Virus Corona, Inggris Belum Tutup Perbatasan bagi Pelancong

ISTMAN MP | CNN

https://edition.cnn.com/2021/01/22/uk/uk-variant-scientists-johnson-intl/index.html






Rasisme Masih Ada di Istana Buckingham, Ini Kata PM Sunak

3 jam lalu

Rasisme Masih Ada di Istana Buckingham, Ini Kata PM Sunak

PM Rishi Sunak, yang pernah jadi korban rasisme mengatakan, negaranya telah berbuat banyak untuk mengikisnya namun masih belum sepenuhnya hilang.


Ford Tambah Investasi Mobil Listrik Rp 2,7 Triliun di Inggris

5 jam lalu

Ford Tambah Investasi Mobil Listrik Rp 2,7 Triliun di Inggris

Pabrik mobil di Halewood memainkan peran yang sangat penting sebagai investasi pertama Ford dalam manufaktur komponen mobil listrik di Eropa.


Ditolak Rumah Sakit Hingga Tewas, Kematian Bocah Muslim Inggris dalam Penyelidikan

5 jam lalu

Ditolak Rumah Sakit Hingga Tewas, Kematian Bocah Muslim Inggris dalam Penyelidikan

Inggris menggelar investigasi independen atas kematian seorang anak laki-laki Muslim berusia lima tahun karena ditolak rumah sakit


Kemenkes Geser Prioritas Kerja dari Penanganan Covid-19 ke Peningkatan Layanan Kesehatan

7 jam lalu

Kemenkes Geser Prioritas Kerja dari Penanganan Covid-19 ke Peningkatan Layanan Kesehatan

Salah satu fous itu adalah Kemenkes akan melakukan restrukturisasi rumah sakit di seluruh Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan layanan kesehatan.


Pasien COVID-19 di China Boleh Karantina di Rumah dengan Syarat

23 jam lalu

Pasien COVID-19 di China Boleh Karantina di Rumah dengan Syarat

China akan mengizinkan kasus positif COVID-19 menjalani karantina di rumah dengan syarat tertentu


Protes Aturan Covid-19 di Cina Menyebar ke Luar Negeri

1 hari lalu

Protes Aturan Covid-19 di Cina Menyebar ke Luar Negeri

Warga Cina yang menetap di Sydney hingga Toronto ikut melakukan aksi protes terhadap aturan Covid-19 dengan menyerukan Cina yang bebas


Ukraina dan Inggris Sepakat Kerja Sama Perdagangan Digital

1 hari lalu

Ukraina dan Inggris Sepakat Kerja Sama Perdagangan Digital

Perjanjian dengan Inggris ini merupakan pertama bagi Ukraina, yang mencari dukungan ekonomi setelah invasi Rusia.


Produksi Mazda di Jepang Diklaim Aman Meski Ada Penguncian Covid-19 di Cina

1 hari lalu

Produksi Mazda di Jepang Diklaim Aman Meski Ada Penguncian Covid-19 di Cina

Mazda mengklaim telah memiliki persediaan suku cadang yang cukup dalam beberapa bulan ke depan.


Saat Pejabat China Diam Tercengang Ditanya Protes Covid-19

1 hari lalu

Saat Pejabat China Diam Tercengang Ditanya Protes Covid-19

Pejabat China tercengang saat ditanya oleh wartawan mengenai protes mandat ketat nol-Covid di negara itu.


China Semangat Lockdown, Dampaknya dari Demonstrasi sampai 20 Ribu Buruh Mundur

2 hari lalu

China Semangat Lockdown, Dampaknya dari Demonstrasi sampai 20 Ribu Buruh Mundur

Pemerintah China semakin banyak memberlakukan lockdown di kota-kota karena antisipasi penyebaran Covid-19. Protes anti-lockdown terus berlangsung.