Pihak Kapal Rusia telah Peringatkan Bahaya Amonium Nitrat ke Pejabat Lebanon

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang tentara berdiri di lokasi ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon, 6 Agustus 2020. [Thibault Camus / Pool via REUTERS]

    Seorang tentara berdiri di lokasi ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon, 6 Agustus 2020. [Thibault Camus / Pool via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokumen yang baru dirilis menunjukkan bahwa beberapa lembaga pemerintah di Lebanon telah diperingatkan tentang amonium nitrat dari kargo kapal Rusia yang disimpan di sebuah gudang di pelabuhan Beirut, termasuk Kementerian Kehakiman, menurut dokumen yang dilihat oleh CNN.

    Dokumen mengungkapkan bagaimana pejabat Lebanon telah diperingatkan tentang bahaya kargo kapal Rusia yang mengangkut amonium nitrat dan singgah di pelabuhan Beirut.

    Analis Rusia menjelaskan kepada pejabat Lebanon bahwa kargo berbahaya itu seperti "bom mengapung".

    Setelah ledakan, Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab mengatakan sekitar 2.750 ton amonium nitrat disimpan di gudang selama enam tahun tanpa prosedur keselamatan memadai.

    Namun, dokumen yang diperoleh CNN menunjukkan bahwa anggota pemerintah dan pengadilan Lebanon mengetahui sejumlah besar materi berbahaya yang disimpan di sana dan mungkin gagal menjaganya.

    Dikutip dari CNN, 7 Agustus 2020, pada 2013 sebuah kapal milik Rusia bernama MV Rhosus ditahan di Beirut dengan muatan 2.750 metrik ton amonium nitrat, yang digunakan untuk industri pertanian dan pertambangan.

    Kargo tersebut dikatakan akan dikirim ke Mozambik, tetapi kapal tersebut berhenti di Beirut karena kesulitan keuangan.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron menyaksikan kerusakan bangunan di lokasi ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon, Kamis, 6 Agustus 2020. Akibat ledakan yang dirasakan hingga belasan kilometer ini, sekitar 300.000 orang terpaksa mengungsi karena rumahnya rusak. Thibault Camus Pool via REUTERS

    Baroudi & Associates, yang mewakili awak kapal Rusia, merilis pernyataan pada Rabu bahwa mereka mengirim surat pada Juli 2014 kepada pejabat di Pelabuhan Beirut dan Kementerian Perhubungan "yang memperingatkan bahaya material yang dibawa di kapal".

    Baroudi & Associates menyatakan bahwa mereka juga menerima surat bulan itu dari Direktur Jenderal Perhubungan Darat dan Laut Laut yang memberi tahu behwa dia mengirim surat resmi kepada Kementerian Kehakiman meminta mereka untuk melakukan pencegahan.

    "Dia juga memberi tahu kami bahwa dia mengirim surat kepada otoritas angkatan laut untuk melakukan apa yang diperlukan untuk memperbaiki kapal dan menghindari tenggelamnya," tulis pernyataan Baroudi & Associates.

    Kementerian Kehakiman Lebanon, Kementerian Transportasi, dan Pelabuhan Beirut belum merespon laporan ini.

    Meski telah diperingatkan, kargo amonium nitrat tetap berada di pelabuhan.

    Otoritas bea cukai mengeluarkan pemberitahuan berulang kali kepada hakim tentang kargo berbahaya tersebut, menurut dokumen. Tetapi hakim, yang tidak dapat disebutkan namanya karena alasan hukum, merespons beberapa kali dengan mengatakan bahwa kapal dan muatannya mungkin tidak berada dalam yurisdiksi pengadilan, tulis dalam dokumen.

    Dalam empat tanggapan dengan tulisan tangan yang ditulis pada 2016 dan 2017, para hakim dan penerus mereka menanggapi surat dari pejabat bea cukai Lebanon yang mengatakan bahwa mereka perlu "membahas sejauh mana yurisdiksi pengadilan" mencakup masalah ini.

    Baroudi & Associates mengatakan tujuan kargo adalah Mozambik dan bahwa kargo itu akan dikirim sesuai dengan perintah Bank Internasional Mozambik untuk Fabrica De Explosives ketika ditahan di Beirut.

    Bank Internasional Mozambik dan Fábrica de Explosivos de Moçambique, sebuah perusahaan pertambangan komersial di Mozambik, tidak menanggapi permintaan komentar.

    Namun direktur Pelabuhan Beira di Mozambik, António Libombo, membantah mengetahui kapal Rusia itu, menurut surat kabar lokal berbahasa Portugis, Lusa. "Biasanya, sebelum kami menerima kapal, kami diberitahu. Dalam hal ini, kami tidak pernah menerima pemberitahuan tentang kapal yang datang ke pelabuhan Beira dengan karakteristik dan muatan itu," kata Libombo kepada Lusa.

    Kementerian Transportasi dan Komunikasi Mozambik juga dilaporkan memberi tahu Lusa bahwa mereka tidak diberi tahu tentang kapal Rusia itu.

    Kemungkinan ledakan itu bisa dicegah telah memicu tuduhan kelalaian pemerintah, yang berakar pada rasa frustrasi berkepanjangan di kelas politik Lebanon.

    Ledakan yang menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai ribuan lainnya, terjadi ketika Lebanon diguncang krisis ekonomi, pengangguran, melonjaknya harga pangan, dan nilai mata uangnya jatuh.

    Pemerintah Lebanon telah menahan 16 orang terkait ledakan, termasuk manajer pelabuhan Beirut, menurut kantor berita NNA pada Kamis, dikutip dari Reuters.

    NNA tidak menyebutkan nama-nama yang ditahan tetapi mengutip Hakim Fadi Akiki, perwakilan pemerintah di pengadilan militer, yang mengatakan pihak berwenang sejauh ini telah memeriksa 18 lebih petugas pelabuhan dan bea cukai serta orang lain yang terlibat dalam pekerjaan pemeliharaan di gudang tersebut.

    Sumber pengadilan dan dua televisi Lebanon mengatakan Manajer Umum Pelabuhan Beirut Hassan Koraytem termasuk di antara mereka yang ditahan. Sebelumnya, bank sentral mengatakan akan membekukan rekening tujuh orang termasuk Koraytem dan kepala bea cukai Lebanon.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru Nonton di Bioskop Pasca Covid-19

    Masyarakat dapat menikmati film di layar lebar dalam masa pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.