PM dan Presiden Lebanon Cari Dalang Ledakan di Beirut

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kemanusiaan sedang menolong korban ledakan di Beirut, Lebanon, pada Selasa, 4 Agustus 2020. Reuters

    Petugas kemanusiaan sedang menolong korban ledakan di Beirut, Lebanon, pada Selasa, 4 Agustus 2020. Reuters

    TEMPO.CO, Beirut – Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab, mengatakan pemerintah akan mencari pihak yang bertanggung jawab atas ledakan di Beirut, yang terjadi di gudang dekat pelabuhan pada Selasa sore, 4 Agustus 2020.

    “Mereka yang bertanggung jawab akan menanggung akibatnya,” kata Diab dalam pernyataan lewat siaran televisi pada Selasa malam, 4 Agustus 2020, dan dilansir Reuters.

    Secara terpisah, Presiden Lebanon, Michael Aoun, mengatakan ada 2,750 ton bahan amonium nitrat meledak di lokasi kejadian.

    Amonium nitrat ini telah disimpang di lokasi pelabuhan, Beirut, tanpa langkah pengamanan. Dia menyebut tindakan ini sebagai tidak bisa diterima.

    Aoun meminta rapat kabinet darurat digelar pada Rabu, 5 Agustus 2020. Dia juga menyatakan negara dalam keadaan darurat selama dua pekan ke depan.

    Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut memperingatkan warga kota soal adanya laporan gas beracun dari ledakan ini.

    Pihak kedubes meminta warga untuk tinggal di dalam rumah dan memakai masker wajah.

    Kementerian Dalam Negeri Lebanon mengatakan ledakan di Beirut berasal dari bahan peledak yang disita sejak 2014.  Bahan peledak itu lalu disimpan di area pelabuhan.

    Pemerntah Israel, yang berperang melawan Lebanon selama beberapa tahun, membantah terlibat dalam insiden ini dan menawarkan bantuan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Traveling Virtual di Masa Pandemi Covid-19

    Dorongan untuk tetap berjalan-jalan dan bertamasya selama pandemi Covid-19 masih tinggi.