60 Suku Pribumi Brazil Terancam Musnah Oleh Virus Corona

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masyarakat adat dari suku Mura berjalan di daerah gundul di tanah adat nondemarcated di dalam hutan hujan Amazon dekat Humaita, Negara Bagian Amazonas, Brasil 20 Agustus 2019. [REUTERS / Ueslei Marcelino]

    Masyarakat adat dari suku Mura berjalan di daerah gundul di tanah adat nondemarcated di dalam hutan hujan Amazon dekat Humaita, Negara Bagian Amazonas, Brasil 20 Agustus 2019. [REUTERS / Ueslei Marcelino]

    TEMPO.CO, Jakarta - Suku pribumi di Brazil berhadapan dengan genosida akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Dikutip dari Business Insider, buruknya penanganan Corona di Brazil membuat angka kematian di komunitas pribumi terus meningkat, bahkan melebihi persentase nasional.

    "Ada bahaya laten bahwa virus Corona masuk ke dalam kawasan suku pribumi dan memicu genosida," ujar Sebastiao Salgado, aktivis pribumi Brazil, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Selasa, 26 Mei 2020.

    Menurut data terbaru dari Articulation of Indigenous Peoples of Brazil (APIB), ada 980 kasus dan 125 korban meninggal akibat virus Corona di komunitas pribumi. Dengan kata lain, angka kematiannya adalah 12,6 persen atau nyaris dua kali lipat dari persentase nasional, 6,5 persen.

    Angka tersebut juga lebih besar dibandingkan data resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Brazil. Menurut Sekretariat Khusus untuk Kesehatan Masyarakat Pribumi, tercatat ada 695 kasus dan 34 kematian akibat virus Corona. APIB menjelaskan, perbedaan angka dikarenakan Pemerintah Brazil tidak menghitung masyarakat pribumi yang melakukan urbanisasi.

    Dari dua data di atas, mayoritas masyarakat pribumi yang menjadi korban virus Corona adalah mereka yang tinggal di pedalaman. Menurut Salgado, kesehatan mereka yang tinggal di sana memang jarang terurus. Untuk bisa mendapatkan pertolongan pertama pun, kata ia, harus keluar dari hutan baik dengan pesawat maupun kapal. Alhasil, mereka menjadi rentan tertular virus Corona.

    "Masyarakat pribumi yang berada di Amazon (misalnya) tidak memiliki perlindungan terhadap penyakit yang hanya bisa didapat dari luar (perkotaan)," ujar Salgado.

    Hal senada disampaikan oleh Dinaman Tuxa, anggota masyarakat Tuxa yang juga mengkoordinir APIB. Ia menyatakan, virus Corona membuka mata banyak orang bahwa sesungguhnya ada masyarakat-masyarakat Brazil yang tidak terurus kesehatannya selama ini.

    Tuxa mengaku beruntung bahwa dari 60 komunitas pribumi di Brazil, masyarakat Tuxa belum mencatatkan kasus virus Corona satu pun. Namun, melihat buruknya penanganan virus Corona di Brazil, dirinya ragu masyarakatnya bisa bertahan lama.

    "Komunitas kami berada di kawasan terpencil, tempat yang sulit untuk hidup dan tanpa akses ke infrastruktur kesehatan. Rumah sakit terdekat saja, 4,5 jam perjalanan dari tempat tinggal kami," ujar Tuxa soal komunitasnya yang beranggotakan 1400 orang.

    "Dengan situasi pandemi sekarang pilihan kami tidak banyak. Kami mengisolir diri, membuat batasan  sosial. Kami melarang anggota untuk berpergian," ujar Tuxa menambahkan.

    Presiden Brazil, Jair Bolsonaro, didesak untuk mengambil sikap. Namun, sampai sekarang, ia tetap menyepelekan kasus virus Corona demi ekonomi. Alhasil, Brazil sekarang berada di posisi kedua sebagai negara paling terdampak Corona (COVID-19). Tercatat adalah 376 ribu kasus dan 3.600 kematian di sana.

    ISTMAN MP | BUSINESS INSIDER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Benarkah Ada Jam Makan Yang Bikin Gemuk?

    Banyak cara untuk membuat berat badan menjadi ideal, contohnya waktu makan. Namun makan di jam yang salah bisa bikin gemuk.