Diasingkan, Muslim Uighur Khawatir Tak Bisa Hadapi Virus Corona

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan orang di Turki melakukan unjuk rasa dukungan terhadap Muslim Uighur di Cina dan solidaritas setelah Mesut Ozil dikritik karena mengomentari kebijakan Cina soal Uighur. Sumber: Reuters

    Ribuan orang di Turki melakukan unjuk rasa dukungan terhadap Muslim Uighur di Cina dan solidaritas setelah Mesut Ozil dikritik karena mengomentari kebijakan Cina soal Uighur. Sumber: Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Komunitas Uighur khawatir anggota mereka yang diasingkan di Xinjiang, Cina, tidak akan bisa menghadapi virus Corona apabila epidemi itu berhasil menjangkau mereka. Sebab, sampai sekarang, tidak ada pemberitahuan soal kondisi mereka dan persiapan apa yang sudah dilakukan untuk menghadapi skenario terburuk.

    "Warga (Uighur) sudah mulai panik. Keluarga kami berada di sana, berhadapan dengan kamp dan ancaman virus Corona. Kami pun tidak tahu apakah mereka memiliki cukup masker dan makanan," ujar salah satu juru bicara diaspora Uighur, Dilnur Reyhan, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Kamis, 13 Februari 2020.

    Kabar tentang kondisi kelompok Uighur di Xinjiang memang tidak pernah diungkapkan selama ini. Berbagai media di Cina kebanyakan hanya menyampaikan bahwa Xinjiang jauh dari pusat penyebaran virus Corona (Hubei) dan ada 55 pasien di sana.

    Meski begitu, ada kekhawatiran dari diaspora Uighur bahwa mereka yang berada di kamp Xinjiang sebenarnya sudah berhadapan dengan virus Corona. Sebab, selain jutaan dari mereka tinggal di kamp yang sama, diyakini persediaan obat-obatan dan perlengkapan medis di sana juga minim.

    Di situs Change.org, 3000 orang telah meneken petisi untuk membuka akses bantuan ke kamp Uighur. Petisi itu menyampaikan, "Jangan menunggu sampai ada ratusan korban meninggal di kamp baru kemudian kita bergerak". Sayangnya, pemerintah Cina masih belum memberikan respon apapun terkait petisi tersebut.

    "Jika tidak ditangani dengan baik, virus Corona bisa dengan cepat menyerang mereka. Mereka itu rentan terserang virus karena penganiyaan dan perlakuan tidak semena-mena dari pemerintah Cina," ujar Presiden Konggres Uighur Sedunia (WUC), Dolkun Isa, sebagaimana dikutip dari situs Channel News Asia.

    Berbeda dengan Xinjiang, di lokasi lain, pemerintah Cina semakin agresif melakukan pembatasan untuk mengontrol penyebaran virus Corona. Di Shanghai, misalnya, semua parsel harus disterilkan dahulu sebelum dikirimkan. Contoh lain, di Wuhan, pembagian pusat medis sudah diatur ulang berdasarkan simptom yang diderita.

    Cina optimistis strategi yang mereka terapkan bisa menurunkan angka pertumbuhan virus Corona secara signifikan. Bahkan, sepekan terakhir, sudah terjadi penurunan pertumbuhan kasus baru sebanyak 50 persen. Apabila trend itu bertahan, Cina memprediksi epidemi virus Corona berakhir pada April nanti. 

    Adapun jumlah kasus virus Corona di seluruh dunia sudah mencapai angka 60.062 kasus per hari ini. Jumlah korban meninggal diketahui ada 1363 dan mereka yang berhasil sembuh ada 5680 orang.

    ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.