Cina Dituduh Kremasi Diam-diam Jenazah Korban Virus Corona

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang-orang memakai masker di Chinatown setelah merebaknya virus Corona Wuhan, di Chicago, Illinois, AS 30 Januari 2020. [REUTERS / Kamil Krzaczynski]

    Orang-orang memakai masker di Chinatown setelah merebaknya virus Corona Wuhan, di Chicago, Illinois, AS 30 Januari 2020. [REUTERS / Kamil Krzaczynski]

    TEMPO.CO, Jakarta - Cina dilaporkan telah mengkremasi secara diam-diam mayat yang belum diidentifikasi korban terjangkitnya virus corona. Kabar yang belum terkonfirmasi ini telah menambah panjang daftar korban tewas setelah jumlah pasien virus corona melonjak melampaui 7 ribu kasus. 

    Diketahui bahwa virus corona kini telah menginfeksi lebih banyak orang di Cina melebihi kasus SARS pada 2002 dengan 5.327 kasus SARS yang dikonfirmasi. 

    Dilaporkan 7.771 orang di Cina didiagnosis menderita penyakit yang terjangkit dari virus corona dan 170 kasus berakhir dengan kematian. 

    William Yang, reporter media asal Jerman Deutsche-Welle, mengklaim Cina menyembunyikan jumlah sebenarnya angka kematian dengan mengirim orang ke krematorium tanpa mengidentifikasi mereka. 

    "Outlet media kredibel Cina @initiumnews mewawancarai orang-orang yang bekerja di pusat-pusat kremasi lokal, membenarkan banyak mayat dikirim langsung dari rumah sakit ke pusat-pusat kremasi tanpa mengidentifikasi pasien dengan benar, yang berarti ada pasien yang meninggal karena virus tetapi tidak menambah catatan resmi. Jadi ada alasan untuk tetap skeptis tentang apa yang #Cina telah bagikan dengan dunia karena sementara mereka lebih transparan tentang hal-hal tertentu yang terkait dengan virus, mereka terus samar dan tidak dapat diandalkan dalam aspek lain," tulis Yang di Twitter. 

    Beijing belum menanggapi kicauan Yang tersebut.  

    Sementara itu sekitar 200 warga negara Inggris yang terjebak di Wuhan, akan dikarantina di pangkalan militer Inggris selama 14 hari setelah pihak berwenang Cina akhirnya mengizinkan mereka untuk pergi. Lebih dari 100 orang telah diperiksa dan semua hasilnya negative virus corona. 

    Para ahli di Universitas Southampton menemukan wabah virus corona lebih mungkin terjadi di Inggris daripada negara lain di Eropa. Inggris berada di garis depan dalam pertempuran melawan penyakit mematikan karena jumlah pengunjung dari Cina. Lebih dari 142.000 wisatawan tiba di London antara Januari dan pertengahan Maret setiap tahun.

    Para peneliti di Universitas Southampton mengukur potensi penyebaran global untuk pertama kalinya, menemukan Inggris adalah negara paling berisiko di benua biru.

    Secara global, Ibu Kota London berada di peringkat ke-17, setelah Amerika Serikat (ke-6) dan Australia (ke-10). Thailand, yang memiliki kasus virus corona terbanyak di luar Cina pada Kamis pagi, 30 Oktober 2020 berada di puncak daftar negara yang paling berisiko.

    Galuh Kurnia Ramadhani | mirror.co.uk


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.